NEWS : ICSF: Aplikasi Peduli Lindungi, Jangan Beri Harapan

ICSF: Aplikasi Peduli Lindungi, Jangan Beri Harapan

ICSF: Aplikasi Peduli Lindungi, Jangan Beri Harapan
Menkominfo Johnny G Plate
Arif Rahman, Faisal Hafis Jumat, 27 Maret 2020 - 22:38 WIB

Cyberthreat.id - Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut aplikasi nasional Peduli Lindungi mirip dengan aplikasi TraceTogether yang dimiliki dan digunakan pemerintah Singapura untuk tracing, tracking dan fencing dalam melawan dan menanggulangi pandemi Covid 19.

Menkominfo Johnny G Plate sempat blunder menyatakan aplikasi yang dikembangkan Kominfo sebagai TraceTogether. Belakangan ia meralat pernyataannya lalu menyebut aplikasi itu hanya mirip. Memang aplikasi tersebut open source dan kode publiknya belum dirilis.

Aplikasi Peduli Lindungi, kata Johnny, merupakan aplikasi yang dibangun dan dikembangkan anak bangsa.

"Aplikasi sejenis TraceTogether ini dirancang oleh putra-putri Indonesia. Meskipun ada kesamaan fungsi, tapi aplikasi yang dikembangkan oleh Kemenkominfo dan KemenBUMN ini memiliki konfigurasi yang berbeda," demikian keterangan pers Johnny yang dirilis, Jumat (27 Maret 2020).

Di situsnya, Peduli Lindungi menyatakan "aplikasi ini melindungi diri Anda, keluarga Anda, dan orang terdekat lainnya, serta menghentikan penyebaran Covid-19 dengan mengandalkan masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita Covid-19 dapat dilakukan".

Cara kerja aplikasi ini menggunakan data yang diproduksi oleh pengguna gawai di Indonesia dengan bluetooth aktif untuk merekam informasi yang dibutuhkan. Perlu diingat, aplikasi ini membutuhkan jaringan bluetooth yang aktif dan pengguna yang mengunduh aplikasi itu.

"Ketika ada gadget lain dalam radius bluetooth yang juga terdaftar di Peduli Lindungi, maka akan terjadi pertukaran id (identitas) anonim yang akan direkam oleh gadget masing-masing."

Menuai Kritikan

Peduli Lindungi akan mengidentifikasi orang-orang yang pernah berada dalam jarak dekat dengan orang yang dinyatakan positif Covid-19, PDP (pasien dalam pengawasan) dan ODP (orang dalam pengawasan).

Hal itu, diklaim dapat membantu seseorang yang lupa terhadap riwayat perjalanannya dan dengan siapa saja dia melakukan kontak. Sebab, bisa jadi orang itu telah mengunjungi suatu tempat, dimana tempat itu memiliki pasien positif Covid-19.

"Jika Anda pernah berada di tempat yang dekat dengan kasus Covid-19 positif, baik Anda tahu ataupun tidak tahu orangnya, Peduli Lindungi membantu petugas kesehatan untuk menghubungi Anda lebih cepat."

Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja pernah mencoba menginstal aplikasi TraceTogether milik Singapura. Ia menyebut terdapat banyak kelemahan dan potensi ancaman di aplikasi tersebut.

Pertama, kata dia, TraceTogether dibuat untuk Kementerian Kesehatan Singapura (Ministry of Health/MoH). Kedua, aplikasi tersebut meminta akses pada bluetooth dan GPS location. Ketiga, data disimpan di ponsel pengguna baru akan di upload dengan consent (persetujuan) pengguna kalau diperlukan. Keempat, aplikasi berjalan di background dan minta diaktifkan terus sampai pandemi Covid-19 selesai.

Ia berharap pemerintah jangan terlalu over selling dan over promising kepada masyarakat dengan memberikan harapan-harapan terkait aplikasi Peduli Lindungi yang belum tentu bisa terealisasi.

"Dan bila (aplikasi) tidak bisa deliver, maka taruhannya selain nyawa orang banyak, juga taruhannya adalah kredibilitas pemerintah. Pemerintah harus bijak dan jangan juga berperilaku bak salesman atau dukun," tegas Ardi.[]

Redaktur: Arif Rahman

Baca juga:


Standardisasi dan Validasi Teknologi