NEWS : Pasokan Chip Huawei Diblokir, Bumerang bagi Perusahaan AS

Pasokan Chip Huawei Diblokir, Bumerang bagi Perusahaan AS

Pasokan Chip Huawei Diblokir, Bumerang bagi Perusahaan AS
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Andi Nugroho Rabu, 27 Mei 2020 - 09:25 WIB

Cyberthreat.id – Keputusan Amerika Serikat memblokir pasokan sirkuit terpadu (chip) ke Huawei dipandang pengamat teknologi informasi sebagai tindakan blunder.

Justru, dengan dibatasi pasokan ke Huawei, perusahaan chip AS akan kehilangan penjualan yang signifikan ke pesaing mereka di Korea, Taiwan, China, dan Jepang.

Hal itu disampaikan Xiaomeng Lu, mantan direktur Information Technology Industry Council (ITI) yang berkantor pusat di Washington, saat diwawancarai dengan Newsweek, pada 22 Mei lalu.

Menurut Lu, dengan pembatasan itu bisa memberi untung perusahaan chipset asing, sehingga “mereka akan bisa berinvestasi, fokus pada penelitian dan pengembangan dalam teknologi semikondutor generasi berikutnya. Dan, berpotensi melewati rekan-rekan industri mereka di AS,” ujar konsultan teknologi di Access Partnership Ltd tersebut.


Berita Terkait:

Hal senada juga disampaikan analis teknologi juga pendiri Disruptive Analysis, Dean Bubley. Menurut dia, untuk jangka panjang, “pemblokiran” tersebut mendorong China untuk mengembangkan semikonduktornya sendiri, bahkan lebih baik dari yang sudah ada.

“[Kondisi] ini juga mengubah risiko geopolitik dan ekonomi yang dihadapi Taiwan, pemasok utama chip dan elektronik untuk perusahaan-perusahaan di AS,” ujar dia.

Diberitakan sebelumnya, Departemen Perdagangan AS mengeluarkan larangan perusahaan teknologi AS memasok chip kepada Huawei, baik yang beroperasi lokal maupun di luar negeri.

Bahkan, bagi perusahaan chip asing yang menggunakan peralatan AS juga diwajibkan untuk mendapatkan lisensi dari Depdag AS sebelum mengirim pasokan ke Huawei atau anak perusahaannya.

Sejak keluar kebijakan itu, perusahaan semikonduktor Taiwan, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TMSC), salah satu pemasok utama ke Huawei, telah memutuskan berhenti menerima orderan dari Huawei. Pengumuman tersebut berbarengan ketika TSMC juga mengumumkan tengah membangun pabrik di AS.

Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo, menyebut pembaruan kebijakan tersebut sebagai salah satu cara untuk melindungi integritas jaringan 5G di masa depan dari perusahaan yang "tidak dapat dipercaya", tulis Newsweek.


Baca:


Amerika Serikat selama setahun belakangan mempropagandaka kepada seluruh dunia bahwa perangkat 5G Huawei mengancam keamanan nasional. Perangkat tersebut dituding memiliki “pintu belakang” (backdoor) yang terkoneksi dengan intelijen pemerintah China.

Pada pertengahan Mei 2019, Depdag AS memasukkan Huawei dalam daftar hitam. Namun, berkali-kali Huawei membantah tudingan tak berdasar bukti tersebut. Huawei juga menantang AS agar membuka “aib” tersebut, biar dunia tahu apa yang dimaksud dengan backdoor tersebut.

Huawei adalah salah satu perusahaan teknologi China yang baru-baru ini merilis chipset baru, Kirin 990, yang diyakini memperkuat perangkat 5G mereka.

Hingga kini, menurut Newsweek, Huawei telah menyediarkan 36 jaringan 5G hidup di 21 negara, mengumpulkan lebih dari 90 kesepakatan komersial, termasuk dengan AT&T, Sprint dan Verizon. Kontrak publik menunjukkan juga telah beroperasi di Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia.[]


Standardisasi dan Validasi Teknologi