Dealer Mobil Terbesar di Eropa Terkena Serangan Ransomware

Ilustrasi via Outomotive News

Cyberthreat.id - Salah satu dealer mobil terbesar di Eropa, Emil Frey, terkena serangan ransomware bulan lalu, menurut sebuah pernyataan dari perusahaan.

Perusahaan Swiss itu muncul di daftar korban ransomware Hive pada 1 Februari dan mengonfirmasi bahwa mereka diserang pada Januari.

"Kami telah memulihkan dan memulai kembali aktivitas komersial kami beberapa hari setelah insiden pada 11 Januari 2022," kata seorang juru bicara seperti dilansir ZDnet, menolak untuk menjawab lebih banyak pertanyaan tentang apakah informasi pelanggan diakses.

Perusahaan - yang memiliki sekitar 3.000 karyawan - menghasilkan penjualan US$ 3,29 miliar pada 2020 berkat berbagai bisnis yang berhubungan dengan mobil. Omset sebesar itu menempatkan Emil Frey sebagai dealir mobil nomor 1 di Eropa berdasarkan pendapatan dan jumlah total kendaraan yang  dijual.

FBI menyoroti kelompok ransomware Hive pada Agustus 2021 setelah anggota mereka menyerang lusinan organisasi perawatan kesehatan tahun lalu.

Pada tahun 2021, Hive menyerang setidaknya 28 organisasi perawatan kesehatan, termasuk Memorial Health System, yang terkena serangan ransomware pada 15 Agustus.

Peringatan FBI menjelaskan bagaimana ransomware merusak sistem dan cadangan sebelum mengarahkan korban lewat tautan ke situs mereka di web gelap  yang hanya dapat diakses melalui browser TOR. Tautan tersebut membawa korban ke obrolan langsung dengan orang-orang di balik serangan itu, tetapi FBI mencatat bahwa beberapa korban bahkan telah dihubungi oleh penyerang untuk meminta uang tebusan.

Sebagian besar korban menghadapi tenggat waktu pembayaran antara dua dan enam hari, tetapi yang lain dapat memperpanjang tenggat waktu mereka melalui negosiasi.

Pada hari Rabu, FBI, Badan Keamanan Nasional (NSA) dan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC), dan Pusat Keamanan Siber Australia (ACSC) merilis peringatan yang menunjukkan bahwa gelombang serangan ransomware yang semakin canggih menimbulkan ancaman bagi infrastruktur dan organisasi penting di seluruh dunia.

"Kita hidup di masa ketika setiap pemerintah, setiap bisnis, setiap orang harus fokus pada ancaman ransomware dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko menjadi korban," kata Direktur CISA Jen Easterly.[]