Facebook Hapus Akun dan Grup yang Terafiliasi Militer Thailand
Cyberthreat.id – Facebook Inc menghapus 185 akun dan grup yang diduga terafiliasi dengan militer Thailand yang dipakai untuk mempengaruhi informasi publik. Rinciannya, sebanyak 77 akun, 72 Pages, dan 18 grup di Facebook, lalu 18 akun di Instagram.
Menurut Facebook, akun-akun tersebut ditargetkan untuk pengguna di provinsi selatan Thailand, wilayah konflik selama lebih dari satu dekade oleh kelompok pemberontak yang masih bergerilya.
Juru bicara Thailand menolak berkomentar dengan alasan kebijakan tidak memberikan komentar di luar jumpa pers resmi, tulis Reuters, diakses Minggu (7 Maret 2021).
“Ini adalah pertama kalinya kami mengiatkan salah satu penghapusan kami dengan tautan ke militer Thailand,” kata Nathaniel Gleicher, Kepala Kebijakan Keamanan Siber Facebook.
“Kami menemukan kaitan yang jelas antara operasi itu dan Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri dari militer Thailand. Kami dapat melihat bahwa semua akun dan grup itu saling terkait satu sama lain.”
Jaringan tersebut, yang sebagian besar aktif pada 2020, menggunakan akun palsu dan akun asli untuk mengelola grup dan halaman, termasuk halaman militer yang terbuka dan tidak mengungkapkan afiliasi mereka dengan militer, kata Gleicher.
Beberapa akun palsu menyamar sebagai individu dari provinsi selatan Thailand. Menurut Gleicher, jaringan tersebut telah menghabiskan sekitar US$ 350 untuk iklan Facebook dan Instagram.
Sekitar 700.000 akun mengikuti satu atau lebih halaman dan sekitar 100.000 akun bergabung dengan setidaknya salah satu grup, tambahnya.
Gleicher mengatakan Facebook mengambil tindakan di jaringan tersebut berdasarkan perilaku menipu, dan bukan konten yang diposting, termasuk dukungan untuk militer dan monarki, serta tuduhan kekerasan dan kritik terhadap kelompok pemberontak di Thailand selatan.
Langkah tersebut adalah penghapusan kedua Facebook atas operasi yang memengaruhi informasi di Thailand, setelah pada 2019 yang melibatkan 12 akun dan 10 halaman yang menggunakan "persona fiktif".
Pada Oktober 2020, Twitter Inc juga menghapus 926 akun yang dikatakan terkait dengan militer Thailand yang mempromosikan konten pro-tentara dan pro-pemerintah. Tentara membantah bahwa mereka berada di balik rekening tersebut.
Twitter pada November 2020 juga menangguhkan akun pro-royalis Thailand yang terkait dengan istana yang menurut analisis Reuters terkait dengan ribuan akun lain yang menyebarkan konten yang mendukung monarki Thailand.
Selain itu, Facebook juga telah menghapus empat jaringan lain dari Iran, Rusia dan Maroko yang terlibat dalam perilaku tidak autentik yang terkoordinasi.
Perusahaan mengatakan telah menghapus lebih dari 100 jaringan yang terlibat dalam perilaku tidak autentik secara global dalam beberapa tahun terakhir.[]