CYBERTHREAT : Bagaimana Peretas Mengintai Akun Medsos Kita?

Bagaimana Peretas Mengintai Akun Medsos Kita?

Bagaimana Peretas Mengintai Akun Medsos Kita?
Ilustrasi | theaustralian.com.au
Andi Nugroho Rabu, 06 Maret 2019 - 14:59 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id – Kini dunia siber sudah menjadi kehidupan sehari-hari. Mulai mengunduh foto dan video, membagikan tautan berita, atau belanja daring dilakukan orang di belahan dunia mana pun. Sepertinya memang sulit orang-orang untuk menghindar dari jejaring sosial atau media sosial.

Di sisi lain, tanpa disadari dunia siber juga membuat seseorang membagikan data pribadi ke publik. Orang-orang sering tidak sadar tentang informasi yang terdapat di kartu namanya, yang berisi nama lengkap, surel (e-mail), dan nomor ponsel.

“Padahal, dari situlah titik awal penjahat mengintai,” demikian seperti dikutip dari artikel “Why cybercriminals are stalking your social media accounts”, Rabu (6/3/2019) di Channel News Asia, 9 Januari lalu.

Dalam artikel itu Horangi Cyber Security, perusahaan keamanan siber berkantor di Singapura, melakukan simulasi dengan meretas kehidupan seseorang bernama Mr Lim. Horangi hanya dibekali alamat surel Mr Lim. Dari situ, akhirnya terlacak pula akun media sosial dan profil Mr Lim, termasuk tempat tinggal, latar belakang keluarganya, model ponselnya, bahkan lokasi bulan madunya.

“Inilah yang disebut sebagai intelijen sumber terbuka, informasi seseorang yang tersedia di publik,” kata Konsultan Operasional Horangi Cheng Lai Ki.

Menurut Cheng, mungkin foto-foto bulan madu tidaklah berbahaya, tetapi yang menjadi berbahaya adalah mengunggah gambar ponsel itu sendiri. Dengan mengetahui merek dan model ponsel seseorang, kata dia, peretas pada dasarnya bisa masuk ke ponsel.

“Begitu mereka memiliki akses ke ponsel Anda, mereka bisa membaca surel dan pesan teks. Mereka juga dapat mengakses kontak di ponsel, kamera, dan bahkan tahu lokasi ponsel,” tutur Cheng.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar seseorang lebih hati-hati mengunggah apa pun ke media sosial. Ia juga mengingatkan ketika memakai Wi-Fi publik. Seorang peretas dapat mengatur jaringan Wi-Fi jahat di tempat umum. Dari situlah, peretas masuk ke ponsel kita.

Menurut perusahaan keamanan siber, Checkpoint Security, data pribadi sanagt berharga dan dapat dijual di pasar gelap daring. Misalnya, detail paspor individu dan informasi kartu kredit dapat dijual sekitar US$30 atau sekitar Rp425.000.

Teror kejahatan siber (cybercrime) saat ini menjadi tren di dunia. Indonesia termasuk negara dengan kejahatan siber tertinggi nomor dua di dunia setelah Jepang.

#Cyber   #Attack   #Cybercrime   #cyberthreat   #hack   #Hacker   #hacking   #Internet   #kejahatan   #siber   #Media   #Sosial   #peretas

Standardisasi dan Validasi Teknologi