NEWS : Sempat Tumbang Pagi Ini, Begini Penjelasan Twitter

Sempat Tumbang Pagi Ini, Begini Penjelasan Twitter

Sempat Tumbang Pagi Ini, Begini Penjelasan Twitter
Ilustrasi via Tech Crunch
Yuswardi A. Suud Jumat, 16 Oktober 2020 - 10:05 WIB

Cyberthreat.id - Pengguna Twitter mengeluhkan tidak dapat mengunggah apa pun di Twitter sejak beberapa jam lalu. Namun, saat berita ini ditulis, sejumlah pengguna Twitter mengatakan sudah dapat kembali menggunakan Twitter seperti biasa.

Situs Downdetector mencatat, ada 59 ribu laporan yang masuk dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Inggris, sebagian Eropa, Jepang, dan Filipina.

Lewat akun resminya Twitter mengonfirmasi masalah yang terjadi.

"Twitter tidak aktif untuk banyak dari Anda dan kami sedang bekerja untuk mengaktifkannya kembali dan menjalankannya untuk semua orang. Kami mengalami beberapa masalah dengan sistem internal kami dan tidak memiliki bukti adanya pelanggaran keamanan atau peretasan," tulis Twitter di akun @TwitterSupport.

Selang dua jam, Twitter memberikan keterangan tambahan yang menyebut masalah ini terjadi disebabkan oleh perubahan sistem yang dimulai lebih awal dari yang direncanakan.

"Sebagian besar Anda harus kembali ke Tweeting. Pemadaman ini disebabkan oleh perubahan sistem yang dimulai lebih awal dari yang direncanakan, yang memengaruhi sebagian besar server kami. Kami sedang bekerja keras untuk membuat Twitter Kembali normal dan berharap semuanya akan tercapai dalam 1-2 jam. Terima kasih atas kesabaran Anda," tulis Twitter.

Tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan "perubahan sistem yang dimulai lebih awal dari yang direncanakan." Namun, Twitter menghadapi kritikan keras setelah terjadinya peretasan terhadap sejumlah akun milik orang ternama dunia Barack Obama, Kim Kardashian West, Jeff Bezos, Elon Musk, dan beberapa perusahaan cryptocurrency.

Beberapa hari lalu, Departemen Layanan Keuangan (DFS) New York merilis laporan penyelidikan yang menemukan bahwa platform media sosial global itu tidak memiliki perlindungan keamanan siber yang memadai dan, pada saat serangan itu, tidak memiliki kepala petugas keamanan informasi.

"DFS menemukan bahwa pelaku ancaman memperoleh akses ke sistem Twitter hanya dengan menelepon karyawan Twitter dan mengaku dari departemen TI Twitter, lalu meminta kredensial login korban," ungkap DFS dalam laporannya.
 
“Fakta bahwa Twitter rentan terhadap serangan yang tidak canggih menunjukkan bahwa pengaturan sendiri bukanlah jawabannya," kata DFS yang menyarankan adanya relagusi yang mengatur keamanan platform sosial media.[]


Standardisasi dan Validasi Teknologi