NEWS : Sidang Pembajak Twitter Pesohor di Zoom Disusupi Video Porno

Sidang Pembajak Twitter Pesohor di Zoom Disusupi Video Porno

Sidang Pembajak Twitter Pesohor di Zoom Disusupi Video Porno
Ilustrasi
Yuswardi A. Suud Rabu, 05 Agustus 2020 - 22:42 WIB

Cyberthreat.id - Seorang hakim di Florida, Amerika Serikat, dipaksa menunda sidang virtual terhadap remaja berusia 17 tahun yang dituduh sebagai "dalang" di balik pembajakan akun Twitter sejumlah orang ternama. Penundaan dilakukan setelah beberapa orang bergabung lewat Zoom dan menyamar sebagai wartawan CNN dan BBC memutar musik dengan keras dan memutar video porno.

Dilansir dari Vice.com, sejumlah jurnalis yang menghadiri sidang via Zoom pada Rabu (5 Agustus 2020), mengonformasi kejadian itu.

Menurut jurnalis keamanan siber Brian Krebs, penyusupan terjadi lantaran hakim dan panitera tidak membisukan microphone dan tidak mengunci fitur berbagi layar yang menyebabkan pelaku bisa mengambil alih layar dan memutar video tak senonoh.

Menurut Krebs, pengaturan kedua hal itu untuk mencegah penyusupan sebenarnya adalah perkara mudah. Sayangnya, itu tidak dilakukan oleh pengadilan.

"Para hakim yang mengadakan persidangan lewat Zoom perlu mendapat petunjuk," tulis Krebs di Twitter.

Seorang reporter lain dari media lokal, Ryan Hughes, mengatakan Hakim Christopher Nash mengatakan lain kali ia memerlukan kata sandi, hal yang sebenarnya tidak efektif menghentikan gangguan. Sebab, yang perlu dilakukan adalah mengunci fitur berbagi layar yang dapat diatur dari menu pengaturan di Zoom.

Seorang juru bicara pengadilan di Florida menolak berkomentar dan mengatakan pengadilan tidak dapat berbagi video persidangan.

Persidangan itu menghadirkan Graham Clark, 17 tahun, remaja asal Tampa, Florida, yang dituduh sebagai dalang peretasan akun Twitter milik sejumlah tokoh ternama seperti Bill Gates dan Jeff Bezos baru-baru ini.

Setelah akun Twitter mereka dibajak,  pelaku meminta orang-orang mengirimkan Bitcoin dan menjanjikan pengembalian dua kali lipat. Dari aksinya itu, pelaku mendapatkan kiriman Bitcoin senilai US$ 100.000 dan tak pernah mengembalikannya lagi seperti yang dijanjikan.

Berita terkait:


Standardisasi dan Validasi Teknologi