NEWS : Ups! Zuckerberg Facebook Ternyata Pernah Merasa Instagram Sebagai Ancaman

Ups! Zuckerberg Facebook Ternyata Pernah Merasa Instagram Sebagai Ancaman

Ups! Zuckerberg Facebook Ternyata Pernah Merasa Instagram Sebagai Ancaman
Ilustrasi
Yuswardi A. Suud Kamis, 30 Juli 2020 - 19:50 WIB

Cyberthreat.id - Kongres Amerika Serikat menggelar pertemuan secara online dengan empat bos perusahaan teknologi yang beroperasi secara global pada Rabu (29 Juli 2020). Mereka adalah bos Amazon Jeff Bezos, bos Google Sundai Pichai, bos Facebook Mark Zuckerberg, dan bos Apple Tim Cook.

Mereka dimintai keterangannya terkait dugaan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat di bisnis teknologi informasi.

Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah ketika anggota kongres dari partai Republik Jerry Nadler bertanya tentang akuisisi Instagram oleh Facebook. Saat bertanya itu, Jerry memegang surat menyurat antara Mark Zuckerberg dengan kepala divisi keuangannya, David Ebersman, sebelum memutuskan membeli Instagram pada 2012 seharga US$ 1 miliar atau setara Rp 14 triliun.

Menurut Jerry, dokumen-dokumen itu jelas menunjukkan bahwa Facebook dan Mark Zuckerberg ingin membeli Instagram untuk menghindari persaingan.  

"Facebook, dengan pengakuannya sendiri melihat Instagram sebagai ancaman yang berpotensi menyedot bisnis dari Facebook," kata Nadler dikutip dari The Verge.

"Jadi alih-alih bersaing dengannya, Facebook membelinya. Ini adalah persis jenis akuisisi anti-kompetitif yang dirancang untuk mencegah undang-undang antimonopoli," tambah Nadler.

Nadler sampai pada kesimpulan itu setelah membaca surat elektronik Mark Zuckerberg kepada Ebersman yang dikirim pada akhir 2012. Mark, ketika itu, melontarkan gagasan untuk membeli pesaing lebih kecil termasuk Instagram dan Path.

"Bisnis-bisnis ini  baru lahir, tetapi jaringannya sudah terbentuk. Mereka sudah bermakna, dan jika mereka tumbuh dalam skala besar, itu bisa sangat mengganggu kita," tulis Mark.

"Mengingat bahwa kita menganggap penilaian kita sendiri cukup agresif dan kita rentan di perangkat seluler, saya ingin tahu apakah kita harus mempertimbangkan untuk mengejar satu atau dua dari mereka. Bagaimana menurut Anda?" tanya Mark.

Ebersman membalas surat itu dengan  nada skeptis.

"Semua penelitian yang saya lihat bahwa sebagian besar transaksi gagal menciptakan nilai yang diharapkan oleh pihak pembeli," tulisnya.

"Saya akan meminta Anda untuk menemukan penjelasan yang meyakinkan tentang apa yang ingin Anda capai."

Ebersman kemudian membuat daftar empat alasan potensial untuk membeli perusahaan: menetralkan pesaing, mendapatkan bakat, mengintegrasikan produk untuk meningkatkan layanan Facebook, dan "lainnya."

Dalam surat balasan, Mark mengatakan bahwa "ini adalah kombinasi menetralkan pesaing dan meningkatkan layanan Facebook."

"Ada efek jaringan di sekitar produk sosial dan sejumlah mekanisme sosial berbeda untuk diciptakan. Setelah seseorang memenangkan mekanisme tertentu, sulit bagi pesaing untuk menjatuhkannya tanpa membuat sesuatu yang berbeda."

Mark menambahkan,"Salah satu cara memandang ini adalah apa yang kita beli sebenarnya adalah waktu. Bahkan jika beberapa pesaing baru muncul, membeli Instagram, Path, Foursquare dll sekarang akan memberi kita waktu satu tahun atau lebih untuk mengintegrasikan dinamika mereka sebelum ada yang bisa mendekati skala mereka. Dalam kurun waktu itu, jika kita memasukkan mekanisme sosial yang mereka gunakan, produk-produk baru itu tidak akan mendapatkan banyak daya tarik karena kita sudah memiliki mekanisme yang dikerahkan dalam skala besar."

Berselang 40 menit kemudian, Mark mengirim klarifikasi dengan kalimat yang lebih hati-hati.

"Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita akan membelinya untuk mencegah mereka bersaing dengan kita dengan cara apa pun," tulisnya.

Pada awal April 2012, beberapa hari sebelum membuat penawaran untuk membeli Instagram, Mark kembali mengirim email yang kian mengerucut pada keputusan untuk membeli Instagram.

"Saya hanya perlu memutuskan apakah kita membeli Instagram."

"Instagram dapat melukai kita secara berarti tanpa menjadi bisnis besar," tambahnya.

Tak lama, keputusan dibuat. Masih di bulan April 2012, Facebook membeli Instagram. Bertahun-tahun kemudian, keputusan itu terbukti tepat. Jika saat dibeli harganya US$ 1 miliar, tahun lalu saja Instagram menyumbang pendapatan US$ 20 miliar untuk Facebook.
 
***

Menurut anggota kongres, email tersebut adalah bukti bahwa Zuckerberg memandang Instagram sebagai ancaman potensial bagi Facebook sebelum memutuskan membelinya. Karena itu, satu-satunya jalan untuk melindungi Facebook dari persaingan adalah dengan membelinya.

Merespon pernyataan kongres, Mark mengatakan,"Sudah jelas bahwa Instagram adalah pesaing dalam ruang berbagi foto seluler."

"Ada banyak yang lain saat itu. Mereka bersaing dengan aplikassi seperti VSCO Cam dan PicPlz dan perusahaan seperti Path. Dan dengan menyuruh mereka bergabung dengan kami, mereka tentu saja berubah dari pesaing menjadi aplikasi yang dapat kami bantu tumbuhkan dan bantu dapatkan lebih banyak orang untuk dapat menggunakannya."

Sebelum diakuisisi Facebook, Instagram memang sangat populer di Silicon Valley, tempat perusahaan raksasa teknologi dunia bermarkas. Dan, Facebook pun satu-satunya yang mengincarnya.

Twitter, yang telah banyak membantu Instagram di awal-awal kemunculannya, sempat melakukan upaya agresif untuk membelinya. Seperti dilaporkan Sarah Frier tahun ini dalam bukunya No Filter, Twitter menawarkan untuk membelinya senilai US$ 500 juta dan US$ 700 juta.

Tapi tawaran itu ditolak oleh pendiri Instagram, Kevin Systrom. Sampai kemudian Mark meneleponnya pada minggu pertama April 2012 dan menawarkan untuk membeli Instagram berikut 13 karyawannya.

Dewan Systrom - dipimpin oleh Matt Cohler, seorang mantan karyawan awal Facebook awal - mendorongnya untuk menerima tawaran itu. Saat bersamaan, Facebook sedang bersiap untuk melantai di bursa saham dan belum menemukan cara untuk mengangkut pengguna web desktop ke format ponsel yang sedang berkembang pesat.

Systrom sendiri sebelumnya sempat khawatir Instagram akan "dibunuh" oleh Facebook karena dianggap sebagai saingan. Maka ketika tawaran itu datang, Systrom tak menyia-nyiakannya. Apalagi, Mark menawarkannya tetap menjadi CEO Instragram dan bebas membangun Instagram dengan dukungan dari Facebook.

Deal. Tawaran Mark diterima. Dalam penjelasan kepada rekan-rekannya, Systrom mengatakan,"Jika Facebook mengambil tindakan untuk menyalin Instagram atau menargetkan aplikasi secara langsung, itu akan membuatnya jauh lebih sulit untuk tumbuh."

Saat itu, Facebook dianggap membeli Instagram terlalu mahal. Bahkan, CNN berpendapat bahwa Zuckerberg "membayar harga yang mahal untuk start up yang memiliki banyak buzz tetapi tidak jelas model bisnisnya."

Sementara bagi Mark, nilai strategis Instagram sebenarnya terletak pada membantu Facebook mengumpulkan basis pengguna terbesar di dunia, yang dapat terus digunakan untuk membangun bisnis periklanan yang dominan.

Isu akan adanya praktik monopoli sebenarnya sudah terdengar sejak akuisisi lakukan. Namun, Komisi Perdagangan Federal (FTC) saat itu kesulitan membuktikan kerugian konsumen. Sebab, aturan antimonopoli sejak 1960-an mengukur kerugian berdasarkan persaingan harga. Sementara Facebook dan Instagram tersedia secara gratis.

"Saya pikir FTC memiliki semua dokumen ini ... dan dengan suara bulat memilih pada saat itu untuk tidak menentang akuisisi," kata Zuckerberg di hadapan Kongres pada hari Rabu.

“Jika dipikir-pikir, mungkin terlihat jelas bahwa Instagram akan mencapai skala yang dimilikinya saat ini. Tetapi pada saat itu, jauh dari jelas."

FTC menyelesaikan ulasannya tentang akuisisi pada musim panas 2012 tanpa mengadakan dengar pendapat terbuka atau mengeluarkan laporan publik. Lembaga itu hanya memberi catatan bahwa penyelidikan bisaa saja dibuka kembali di masa mendatang.

Dalam beberapa bulan setelah akuisisi, Instagram dan 80 juta penggunanya adalah milik Facebook.

Tetap saja, email Zuckerberg menunjukkan bahwa dia tahu lebih baik daripada regulator betapa berharganya memperoleh Instagram - dan startup kompetitif lainnya - bagi Facebook.[]


Standardisasi dan Validasi Teknologi