Bea Cukai AS Akui Hacker Curi Ribuan Foto di Perbatasan

Bea Cukai AS Akui Hacker Curi Ribuan Foto di Perbatasan
Bea Cukai dan Perbatasan AS menggunakan kamera untuk program pengenalan wajah sedang digalakkan Pemerintahan Donald Trump, terutama di bandara dan perbatasan negara. Foto: BBC | Davelogan
Andi Nugroho Rabu, 12 Juni 2019 - 10:03 WIB

Washington DC, Cyberthreat.id – Petugas Bea Cukai dan Perbatasan Amerika Serikat (Costums and Border Patrol/CBP) dibuat pusing oleh ulah seorang peretas (hacker).

Gara-garanya, si hacker mencuri puluhan ribu foto orang yang telah melintasi perbatasan antara AS dan Meksiko, termasuk foto-foto pelat nomor kendaraan juga raib. “Kurang lebih 100 ribu orang terkena dampak (peretasan), demikian laporan awal,” tulis BBC, Rabu (12/6/2019).

Kebocoran data tersebut seiring dengan pemerintah AS mulai menerapkan teknologi pengenalan wajah di bandara dan perbatasan.

Menyangkut kejadian itu, CBP menyatakan, telah memberitahukan kepada Anggota Kongres dan bekerja sama dengan lembaga penegak hukum serta ahli cybersecurity untuk menginvestigasi insiden tersebut.


Berita Terkait:


CBP memang mulai memanfaatkan penggunaan kamera baik di bandara maupun perbatasan negara sebagai bagian dari program pengenalan wajah. Teknologi tersebut dipakai pemerintah AS untuk mengenali dan melacak orang yang masuk dan keluar AS.

CBP menyatakan, jaringan yang dibobol hacker tersebut bukanlah miliknya, tetapi milik pihak ketiga yang memang mengelola dan menyimpan foto-foto tersebut. Jaringan CBP sendiri tak terpengaruh. Kepada CBP, pihak ketiga tersebut mengaku telah menyimpan gambar pada sistem tanpa persetujuan resmi.

Menurut CBP, tidak ada informasi identitas lain, seperti data paspor atau foto dokumen perjalanan lain yang bocor.


Berita Terkait:


Pada akhir Mei lalu, portal berita teknologi, Register, melaporkan, bahwa foto pelat nomor kendaraan yang melewati pemeriksaan CBP telah dibagikan di dark web.

Namun, CBP yang mengetahu kebocoran pada 31 Mei lalu itu, membantah bahwa ada data gambar yang tersedia di dark web.

Pemerintah AS kini menerapkan penggunaan teknologi pengenalan wajah di bandara. Teknologi itu menuai pro kontra. Kelompok yang kontra menilai teknologi itu melanggar hak-hak privasi publik.

Salah satu yang mengkritiknya adalah Senator Ron Wyden. Kepada Washington Post, ia mengatakan, jika pemerintah mengumpulkan informasi sensitif tentang orang Amerika, “Pemerintah harus bertanggung jawab melindunginya, begitu juga dengan perusahaan swasta yang dikontrak (pemerintah untuk mengoperasikannya),” tutur dia.


Berita Terkait:


“Siapa pun yang informasinya bocor seharusnya diberitahukan oleh petugas Bea Cukai dan pemerintah perlu menjelaskan dengan tepat. Juga, bagaimana itikad pemerintah untuk mencegah agar pelanggaran semacam itu tidak terjadi di masa depan,” ujar dia.

Namun, pemerintah AS sementara ini menyatakan sebetulnya itu bersifat sukarela. Penumpang di bandara boleh menolak jika memang tak mau diambil gambarnya. Pertanyaannya: bagaimana jika di perbatasan, pemilik mobil tak pernah tahu apakah mobilnya difoto atau tidak, bukan?


Standardisasi dan Validasi Teknologi