Inilah Seni Media Baru, Seni Zaman Now

Inilah Seni Media Baru, Seni Zaman Now
Ada iPhone, laptop, kipas angin, galon air hingga streaming YouTube di pentas seni media bertajuk 'Seminar Mencari Ide' karya Damar Rizal Marzuki di TIM, Jakarta, Selasa (11/06/2019) | Foto: Arif Rahman
Arif Rahman Rabu, 12 Juni 2019 - 05:03 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Seorang pria live di YouTube menyusuri jalanan Jakarta mengendarai sepeda motor. Camera action terpasang di helm. Sambil bergumam ia menandai beberapa lokasi, lalu tiba-tiba layar besar di pentas menampilkan iklan Google Map

Ya, Google Map menurut dia adalah gerakan mencari rute. Jalan kebenaran agar tidak tersesat. Kemudian si pria tadi mengatakan kepada penonton bahwa ia ingin hidup sehat. Rutin fitness dan jogging, tapi lewat aplikasi yang di unduh via Play Store.

Di atas panggung koneksi internet menghidupkan aplikasi fitness lewat iPhone. Sambil push up ia berhitung. Lalu berlari-lari kecil si pria diiringi lagu Queen berjudul Under Pressure yang ditampilkan via YouTube di layar besar.

Itulah seni media baru karya Damar Rizal Marzuki bertajuk 'Seminar Mencari Ide' di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Selasa (11/06/2019) malam. 

"Seni itu tanpa batas, tapi berubah," ucap Damar.

Apa Seni Media Baru?

Teknologi membawa perubahan pada karya seni. Misalkan seni rupa atau seni patung di tahun 1970-an. Dulu orang hanya mengacu pada pada bentuk seni yang dihasilkan untuk dinikmati estetika dan keindahannya. 

Kini, seni media baru hadir merespon perkembangan kesenian khususnya IT dan digitalisasi. 

Manusia sekarang hidup di zaman digital. Zaman dimana Moammar Khaddafi di tembak dan di seret rakyatnya siang hari 20 Oktober 2011, tapi 15 menit kemudian seluruh dunia sudah bisa menyaksikan kejadiannya lewat YouTube

Dulu, di zaman old, kematian Khaddafi mungkin baru diketahui penduduk dunia satu atau dua hari setelahnya. Seni media juga demikian. Mengikuti perkembangan zaman, dunia semakin kecil, sementara pemirsa seni makin melek teknologi. 

Kepala Subdit Seni Media Baru Kemendikbud, Tubagus Andre, mengatakan seni media awalnya bagian dari seni visual tapi basic-nya pendekatan teknologi. Dalam hal ini internet, video, foto, media sosial, platform, aplikasi dan berbagai media lainnya. 

Dalam prakteknya, pendekatan teknologi seni media digarap lewat berbagai disiplin ilmu. Bisa dunia musik, teater, seni rupa dan sebagainya.

"Ada satu era dimana teknologi informasi menjadi pilihan agar bisa terjadi kolaborasi antara kesenian," kata Tubagus.

Koneksi Internet, Kalau Bisa 5G

Suatu hari Tubagus menyaksikan pertunjukan koreografi live yang digelar di tiga negara sekaligus. Ia menonton salah satu pertunjukan seni media baru yang luar biasa dan levelnya advanced.  

Ketiga pertunjukan terkoneksi lewat internet menampilkan kolaborasi seni cahaya, hologram, tarian, livestreaming, video conference hingga tampilan berbagai suara via YouTube dan aplikasi.

"Semua terjadi di waktu bersamaan di atas satu pentas. Jadi, penari di Jepang dan Brasil seolah hadir fisiknya di panggung dihiasi hologram. Nah, apa yang membuat itu bisa terwujud? Karena ada teknologi digital terutama internet," ujarnya.

Tubagus mengatakan, di masa yang akan datang, tak bisa dipungkiri seni media baru akan terus berkembang seiring kemajuan IT dan digitalisasi.

Seandainya koneksi 5G yang super cepat sudah bisa diakses banyak orang, tentu akan muncul lagi ide-ide baru, kreativitas baru bahkan seni media yang terbarukan.

"Ke depan, saya pikir ini bisa masuk industri hiburan. Artinya seni yang berkualitas dan punya nilai ekonomi."

Anak Muda dan Milenial

Anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Afrizal Malna, mengatakan munculnya industri teknologi sebenarnya telah membuat mainstream di kesenian seperti seni rupa, tari, teater dan seni lain mengalami goncangan berat. 

Teknologi, kata dia, menawarkan aplikasi yang begitu sulit dikerjakan seniman. Muncul secara instan lewat teknologi digital. 

"Tiba-tiba teknologi itu menawarkan sesuatu (yang baru) dan kami kaget," kata Afrizal. 

Kemudian muncul pertanyaan, jika aplikasi bisa melakukan semuanya? Apakah seniman tidak bisa berkarya? Seni media baru yang mampu mengolaborasikan teknologi dengan dunia seni.

Afrizal yakin bahwa seni media baru milik anak muda zaman now yang kreatif dan berjiwa seni. 

"Seni media baru dan segala halnya, internet, medsos, Facebook dan semuanya sekarang ini milik anak muda," ujarnya.

Di Jerman, kata Afrizal, sudah ada teater yang dimainkan anak-anak muda lewat livestreaming. Kemudian ada seni berbicara dan berpuisi yang menggunakan WhatsApp, video conference, TikTok, Bigo dan sebagainya.

"Ya tergantung koneksi kan. Kalau 5G kan makin mantap."

#internet   #seni   #media   #kemendikbud   #internet   #dkj   #5g

Standardisasi dan Validasi Teknologi