NEWS : AMSI Mengecam Praktek Doxing Para Buzzer

AMSI Mengecam Praktek Doxing Para Buzzer

AMSI Mengecam Praktek Doxing Para Buzzer
Ketua AMSI, Wenseslaus Manggut.
Nurlis E Meuko Kamis, 28 Mei 2020 - 22:16 WIB

Cyberthreat.id - Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) mengecam intimidasi siber, terutama praktek doxing atau membuka informasi pribadi, yang dilakukan para buzzer maupun warganet yang berpotensi merusak kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia. AMSI mengimbau warga masyarakat yang memiliki sengketa pemberitaan dengan media massa untuk menyelesaikannya melalui mekanisme UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Setiap pengaduan terhadap media bisa disampaikan pada redaksi untuk memperoleh hak jawab dan koreksi,” kata Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut di Jakarta, Kamis (28/05/2020).

Jika dinilai belum memuaskan, Wens menambahkan, warga bisa mengadu ke Dewan Pers untuk dicarikan solusi melalui mediasi.

Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, Dewan Pers adalah lembaga negara yang berhak memberikan penilaian atas ada tidaknya pelanggaran kode etik jurnalistik serta memberikan sanksi pada media massa.

Imbauan ini menjadi penting karena sejak Selasa 26 Mei 2020 lalu terjadi kasus kekerasan terhadap wartawan Detikcom yang menulis berita terkait Presiden Joko Widodo. “Korban mengalami intimidasi, doxing, teror, bahkan diancam akan dibunuh,” kata Wens.

Kasus ini bermula ketika Detikcom menurunkan berita tentang rencana Presiden Joko Widodo membuka mal di Bekasi, Jawa Barat, di tengah pandemi Covid-19. Informasi itu berdasarkan pernyataan Kasubbag Publikasi Eksternal Humas Setda Kota Bekasi.

Belakangan berita itu dikoreksi karena ada ralat dari Kabag Humas Pemkot Bekasi, yang menyebut bahwa Jokowi hanya meninjau sarana publik dalam rangka persiapan new normal setelah PSBB.

Setelah koreksi itu dipublikasikan, kekerasan terhadap jurnalis Detikcom mulai terjadi. Identitas pribadi jurnalis itu dibongkar dan dipublikasikan di media sosial, termasuk nomor telepon dan alamat rumahnya.

“Jejak digitalnya diumbar dan dicari-cari kesalahannya. Dia juga menerima ancaman pembunuhan melalui pesan WhatsApp. Serangan serupa ditujukan pada redaksi media Detikcom,” kata Wens lagi.  “Hal ini jelas mencederai kemerdekaan pers dan bertentangan dengan amanat Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.”

Wens mengatakan bahwa pers tentu tidak alpa dari kesalahan. “UU Pers dibuat untuk memastikan koreksi bisa dilakukan, dengan tetap menjunjung perlindungan terhadap kebebasan pers,” katanya.

Jadi, kata Wens, kesalahan jurnalistik tidak boleh berujung pada kekerasan atau pemidanaan terhadap wartawan. “Dengan kebebasan pers yang kokoh, publik diuntungkan oleh adanya mekanisme check and balances untuk memastikan akuntabilitas pemerintah melayani kepentingan warga,” katanya.

“Menyerang pers dan mengintimidasi wartawan hanya akan mencederai ekosistem informasi yang kredibel dan bebas, serta merusak demokrasi,” katanya. 

Pernyataan Sikap Pengurus Pusat AMSI

1. Mendesak pejabat pemerintah atau warga negara yang merasa dirugikan oleh pemberitaan media massa untuk menggunakan mekanisme penyelesaian yang diatur dalam  UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Caranya dengan mengirimkan permintaan hak jawab maupun koreksi ke media terkait,  lalu jika tidak mendapat respon yang diharapkan, baru mengadukan masalahnya ke Dewan Pers. Sejak era reformasi 1998, inilah mekanisme yang telah disepakati secara hukum untuk menyelesaikan sengketa pers tanpa mengganggu independensi media maupun kebebasan pers. 

2. Mengkritik keras perusakan dan intimidasi siber (terutama praktek doxing atau membuka informasi pribadi) yang dilakukan para buzzer maupun warganet yang berpotensi merusak kebebasan pers dan demokrasi di negeri ini. Tanpa pers yang bebas dan jurnalisme yang berkualitas, informasi yang beredar di masyarakat akan mudah disetir oleh pihak-pihak tertentu dengan berbagai kepentingan politik maupun ekonomi. 

3. Meminta aparat penegak hukum segera mengusut dugaan pelanggaran pidana berupa kekerasan siber (perisakan online dan doxing), maupun ancaman pembunuhan terhadap jurnalis, hingga pelakunya diadili di pengadilan.

Jakarta, 28 Mei 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut

Ketua Departemen Advokasi AMSI, Nuruddin Lazuardi

#doxing   #amsi   #wens   #buzzer

Standardisasi dan Validasi Teknologi