NEWS : Menteri Johnny Minta Masyarakat Waspada Disinfodemic

Menteri Johnny Minta Masyarakat Waspada Disinfodemic

Menteri Johnny Minta Masyarakat Waspada Disinfodemic
Menteri Kominfo Johnny G Plate
Faisal Hafis Sabtu, 16 Mei 2020 - 15:26 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate memperingatkan masyarakat terhadap disinfodemic yang terjadi selama pandemi virus Corona (Covid-19) bergulir dalam beberapa bulan terakhir 

Disinfodemic merupakan istilah yang dibuat UNESCO - merujuk ke masifnya penyebaran hoax dan disinformasi seputar Corona. Menurut Johnny, disinfodemic telah menjadi wabah penyakit kedua setelah virus corona itu sendiri.

WHO juga memiliki istilah "Infodemic" untuk masalah serupa. Banyak orang yang tidak bisa membedakan mana informasi yang benar dan dari mana sumbernya. Kondisi ini, kata Johnny, menjadi tantangan bagi jurnalisme di era cyber.

"Jurnalis memegang kunci menyediakan informasi yang kredibel, informasi memberdayakan. Karena hoax membahayakan kehidupan, membuat kekacauan, dan disharmoni kehidupan masyarakat," kata Johnny dalam Webinar bertajuk Optimisme Jurnalis di Era Covid-19 baru-baru ini.

Disinfodemic juga menjadi peluang yang dimanfaatkan oleh oknum jahat guna membuka praktik media online yang bermasalah dalam memberitakan situasi pandemi Covid-19.

Model bisnis seperti ini, kata dia, digunakan untuk menarik dan mempertahankan perhatian pengguna hingga pengumpulan data yang digunakan untuk berbagai target komersil seperti iklan.

Johnny juga mengkritisi judul pemberitaan yang terlalu melebih-lebihkan atau biasa dikenal click-bait.

"Target traffic yang tinggi detik per detik seringkali mengabaikan persoalan etika," ujar Johnny.

Sejauh ini Kominfo telah menangani, mendeteksi, dan mengidentifikasi sebaran isu hoaks dan disinformasi seputar virus Corona. Hingga Kamis (14 Mei 2020) Kominfo mencatat 1.471 isu hoax yang tersebar di platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

"Sebanyak 1.116 konten masih perlu ditindaklanjuti dan 455 sedang dalam proses," ungkap Johnny.

Berdasarkan laporan UNESCO, terdapat 112 juta konten di media sosial yang secara global terkait dengan pandemi Covid-19.

"40 persen berasal dari sumber yang tidak reliabel. Dan hampir 42 persen dari 178 juta tweet yang berkaitan dengan pandemi Covid-19 di dunia diproduksi oleh bot yang tak bisa diandalkan," kata Johnny.

Lebih lanjut, ada pula 191 situs web di Eropa dan Amerika Utara yang mempublikasikan disinformasi dan berita bohong terhadap Covid-19.

Johnny menyatakan pemerintah sudah mempersiapkan diri memberantas peredaran hoax dan disinformasi di Tanah Air. Terdapat empat langkah kesepakatan yang telah dirumuskan bersama Google, Microsoft, Reddit, LinkedIn, Twitter dan Youtube pada 26 Maret lalu.

"Melalui langkah content moderation, menghapus dan menandai adanya disinfodemic, memberi donasi kepada fact checker dan jurnalis, mengarahkan user langsung kepada sumber informasi resmi Covid-19 dan melarang iklan Covid-19 yang menyesatkan," tutur Johnny.[]

Redaktur: Arif Rahman


Standardisasi dan Validasi Teknologi