NEWS : Pakar: Orang Baru Ribut Soal Cybersecurity Setelah Kejadian

Pakar: Orang Baru Ribut Soal Cybersecurity Setelah Kejadian

Pakar: Orang Baru Ribut Soal Cybersecurity Setelah Kejadian
Ilustrasi
Tenri Gobel Selasa, 12 Mei 2020 - 18:06 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Head of Security Business SMLTECH, Muhammad Sahputra, mengatakan mayoritas masyarakat Indonesia belum sadar pentingnya keamanan siber (cybersecurity) di zaman yang serba digital. Menurut dia, cybersecurity awareness atau kesadaran keamanan siber sangat penting ketika berhubungan dengan dunia digital, termasuk segala aktivitas di dalamnya seperti kegiatan ekonomi dan layanan publik.

"Kadang suka muncul pertanyaan, untuk apa sih perlunya memiliki kesadaran keamanan pada era digital? Terus sering mendengar aplikasi ini dihack, server ini dihack, kemudian ada yang datanya leak (bocor), kemudian masih banyak yang awam gitu, emang kenapa sih kalau di hack," kata Muhammad Sahputra dalam Pesantren Kilat Digital Mastel di channel YouTube, Sabtu (9 Mei 2020).

Salah satu contoh kasus betapa minimnya cybersecurity awareness di Indonesia adalah ketika terjadinya berbagai kasus kebocoran data yang menimpa Unicorn. Ini bisa berdampak kepada munculnya kejahatan lain seperti pembobolan akun dan rekening.

Ketidakpedulian merupakan situasi yang berbahaya sehingga pemangku kepentingan perlu memikirkan cara untuk meningkatkannya.

"Terus kalau misalkan mobil bisa dihack, itu kenapa sih apa sih efeknya? Ketika ponsel dihack, apa sih sebenarnya nyata atau cuman mitos untuk nakut-nakutin doang? Apa itu cuma untuk berita doang."

"Jadi, saking seringnya ada informasi data bocor segala macamnya, muncul semacam pernyataan, kalau data gue bocor di internet, terus kenapa? Emang apa resikonya? Nah, ini sebenarnya cukup berbahaya, karena sekarang segala sesuatu sudah digital," ujarnya.

Yang paling ditakutkan dari minimnya cybersecurity awareness adalah ketika kejadian benar-benar terjadi yang bisa menimpa banyak orang secara massal. Pelaku kejahatan akan leluasa menjadikan Indonesia sebagai target jika kesadaran minim. Itu sebabnya memperlihatkan bukti dan contoh sangat penting dalam memberikan pelajaran.

"Mungkin nanti untuk teman-teman ketika membicarakan masalah security awareness kepada temannya atau kepada pihak lain bisa menunjukkan contoh nyata yang sudah terjadi. Lebih baik contoh-contoh tersebut dekat dengan dunia kita, bukan seperti mengaung-ngaung apa yang terjadi di luar negeri, tetapi benar-benar terjadi di Indonesia atau di daerah kita."

Berbagai contoh

Contoh pertama yang dipaparkan Muhammad Sahputra adalah kejahatan di ponsel. Di zaman sekarang semua orang punya ponsel dan terkoneksi ke internet. Ia kemudian menjelaskan dengan sebuah QR Code sebuah ponsel Android seseorang bisa dihack. 

"Bagaimana dengan QR code, nanti ditunjukin tuh disitu, oke QR ini seakan-akan orang (dengan memindainya) bisa dapat HP iPhone, begitu discan, HP kita tiba-tiba terinstal malware, dan ketika sudah terinstal malware, hackernya bisa mendownload dari HP tersebut misalnya foto dan segala macamnya."

"Nah, inilah salah satu simulasi cara mengeksploitasi HP target untuk mendapatkan data didalamnya. Ini bisa untuk teman-teman nanti mengarah ke sana," tegasnya.

Contoh berikutnya adalah koneksi WiFi publik atau umum. Menurut Sahputra, masyarakat Indonesia harus mendapatkan pemahaman kenapa semua orang harus berhati-hati ketika menggunakan WiFi publik.

"Ketika kita di bandara, ketika kita di restoran, ketika kita di tempat publik, kita ketemu ada WiFi. Wah, ini bisa dipakai nih. Begitu kita terkoneksi, oh ternyata itu bisa jadi bisa set up jebakan ketika kita konekso, komunikasi kita semuanya disadap," ujarnya.

Sahputra memperlihatkan bagaimana sebuah koneksi ke WiFi yang tidak di-enkripsi bisa memperlihatkan data pengguna seperti email, password, sehingga di hacker bisa login.

"Jadi kalau teman-teman pernah dengar email saya dibajak dan segala macam, salah satunya mungkin metodenya seperti ini."

Contoh lain di perangkat adalah kamera iPhone yang bisa dihack akibat suatu vulnerability atau kerentanan. Muhammad Sahputra mengatakan, semakin canggih teknologi, semakin canggih perangkat digital, bug-nya akan tetap ada. Bug ini adalah pekerjaan researcher (white-hat-hacker atau bug hunter) untuk menemukannya.

"Di sini menunjukkan bahwa ketika sebuah HP itu bisa dihack, itu bukan suatu yang mitos. Itu sesuatu yang benar-benar terjadi dan data-datanya bisa diambil," tegasnya.

Makin tinggi teknologi, makin waspada

Muhammad Sahputra mengatakan dunia ke depan akan semakin terkoneksi sehingga apapun bisa diakses. Perangkat rumah tangga mulai dari kulkas, microwave, hingga mobil dan perangkat smart home (rumah pintar). Sementara pengguna perangkat ponsel terus bertambah.

"Intinya adalah dunia itu semakin digital, mobil itu digital, smart home itu digital, bisa jadi nanti semua itu terhubung internet. Jadi, kedepannya itu keamanan semakin penting."

Sebaliknya, jika kesadaran cybersecurity minim, lebih banyak orang cuek dan tidak peduli, Muhammad Sahputra mengatakan bersiap-siap dengan konsekuensi yang tidak mudah.

"Bayangkan saja jika orang tetap cuek enggak peduli, ketika smart home, biasanya ada kamera bisa dihack, semua rahasia yang ada di rumah itu bisa diketahui, mobil juga bisa dihack, ketika dihack itu bisa menyebabkan keamanan diri, bisa terjadi kecelakaan dan kriminal."

Redaktur: Arif Rahman


Standardisasi dan Validasi Teknologi