Online Lagi, Peta Corona Jakarta Ungkap Titik Koordinat
Jakarta, Cyberthreat.id - Peta online persebaran virus corona di DKI Jakarta yang sempat menghilang pada Senin pagi (16 Maret 2020), kini sudah kembali dapat diakses publik. Dibanding sebelumnya, informasinya lebih detail. Ada informasi titik koordinat Latitude dan Longitude yang mengacu kepada kawasan tempat pasien tinggal.
Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City, Yudhistira Nugraha mengatakan peta itu sempat tidak bisa diakses publik karena sedang dilakukan pembaruan data.
“Lagi proses update peta,” kata Yudhistira pada Senin siang.
Dari pantauan Cyberthreat.id pada Minggu malam (15 Maret 2020), sempat muncul kanal tambahan 'Peta' di situs itu. Namun, ketika diakses lagi pada Senin pagi, kanal itu telah menghilang. Namun tak lama kemudian muncul lagi kanal tersebut tetapi dengan informasi sedang ada update.
Tak lama setelah itu, pukul 11.12 WIB situs corona.jakarta.go.id sempat tidak bisa diakses dan memunculkan informasi bahwa sedang adanya perbaikan
“503 | Maaf, saat ini sedang dilakukan maintenance sistem.” tulis dalam laman situs corona.jakarta.go.id saat diakses oleh Cyberthreat.id
Sekitar pukul 13.00 WIB lebih, Cyberthreat.id kembali mencoba mengakses situs itu dan kondisinya sudah normal. Kanal 'Peta' pun sudah kembali menunjukkan peta sebaran Covid-19 di DKI Jakarta. Petanya bisa diakses di sini: https://corona.jakarta.go.id/peta
Beda Peta DKI Jakarta dan Jawa Barat
Setelah dilakukan pembaruan, peta persebaran virus corona DKI Jakarta kini memunculkan hal baru, berupa penambahan titik koordinat Latitute dan Longitude, jenis kelamin dan usia pasien.
Di peta DKI Jakarta, informasi terkait pasien positif Covid-19 hanya sampai nama kecamatan tempat pasien tinggal, tidak ada nama kelurahannya.
Ada pun peta interaktif bikinan Pemprov Jawa Barat memunculkan informasi lebih detail hingga ke nama desa tempat tinggal.
Data yang ditampilkan pada peta Peta Pemrov Jawa Barat termasuk nama desa
Ditanya tentang perbedaan itu, Yudhistira mengatakan bahwa mereka tidak mencantumkan data seperti nama kelurahan untuk menjaga privasi pasien.
“Pertama kami tetap harus menjaga privasi pasien, dengan teknik latitude dan longitude, kami bisa melakukan trims alamat rumah dsb. Namun, kami alihkan ke jalan besar dan kecamatan,” ungkapnya.
“Latitude dan Longitude itu bisa cek Kelurahan. Bagi kami ingin memetakan demografi. Dengan posisi latitute dan longitude lebih akurat ketimbang kelurahan.”
Menjaga privasi pasien ini dengan tidak memberikan lokasi detail alamat pasien, kata Yudhistira, atas arahan pimpinanannya yaitu Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
“Arahan Pimpinan, karena kalau berdasarkan protokol kita tidak boleh memberikan lokasi detail. Tapi seperti yang saya jelaskan gunanya peta untuk memberikan informasi lokasi terdampak.” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam peta tersebut titik sebarannya mengacu pada alamat tempat tinggal bagi yang kasus positif dan untuk pasien dalam pengawasan mengacu pada alamat fasilitas kesehatan.
“Pemilihan lokasi tinggal sebagai acuan untuk melihat ‘potensial daerah kontaminasi’. Jadi tujuan kami bukan memberikan detail alamat Pasien.” kata Yudhistira.
Cyberthreat.id mencoba memasukkan informasi data Latitude dan Longitude yang muncul di website DKI Jakarta ke Google Maps. Informasi berupa titik koordinat Latitude dan Longitude ini memberi informasi lain.
Sebagai contoh, pada titik merah di Cilincing, menampilkan informasi pasien positif Covid-19, berusia 23 tahun, jenis kelamin Laki-laki, kecamatan Cilincing, Latitude -6.1290 dan Longitude 106.9445.
Tampilan alamat ketika titik koordinat Latitude -6.1290 dan Longitude 106.9445 dimasukkan ke Google Maps.
Ketika data Latitude dan Longitude itu dimasukkan ke Google Maps, muncul informasi titik koordinat itu berada di RW2, Cilincing, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara.[]
Berita sebelumnya: