Lawan Covid-19, Israel Pakai Teknologi Pelacak Antiteror

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu | Foto: Olivier Fitoussi/Flash90

Yerusalem, Cyberthreat.id – Pemerintah Israel berencana menggunakan teknologi pelacakan antiteror dan penutupan sebagian roda bisnis untuk meminimalkan risiko penularan virus corona.

Hal itu disampaikan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Sabtu (14 Maret 2020), seperti diberitakan Reuters. Pemantauan teknologi dunia maya akan dikerahkan untuk menemukan orang-orang yang telah melakukan kontak dengan mereka yang membawa virus.

Dia mengatakan telah meminta persetujuan Kementerian Kehakiman karena tindakan seperti tersebut dapat melanggar privasi pasien.

Dalam eskalasi tindakan pencegahan, Netanyahu mengumumkan bahwa mal, hotel, restoran, dan bioskop akan ditutup mulai hari ini, Minggu (15 Maret). Ia juga mengatakan karyawan tidak boleh pergi ke tempat kerja, kecuali memang sangat diperlukan.

Namun, layanan vital, apotek, supermarket, dan bank akan terus beroperasi. Pemeirntah juga mendesak orang untuk menjaga jarak sosial, dan tidak mengumpulkan lebih dari 10 orang di sebuah ruangan.

Shin Bet, Dinas Keamanan Domestik Israel, membenarkan bahwa pihaknya sedang memeriksa penggunaan kemampuan teknologinya untuk memerangi coronavirus atas permintaan Netanyahu dan Kementerian Kesehatan.

Avner Pinchuk, seorang ahli privasi dengan Association for Civil Rights di Israel, mengatakan kemampuan seperti itu dapat mencakup pelacakan waktu nyata (real-time) dari ponsel orang yang terinfeksi dan menelusuri kembali melalui meta-data untuk mengetahui: di mana mereka berada dan siapa yang mereka telah dihubungi.

“Saya kurang setuju dengan pengumuman ini. Saya mengerti bahwa kita berada dalam keadaan mencemaskan, tetapi ini tampaknya berpotensi seperti di luar jangkauan; seberapa mengganggu tindakan baru itu,” kata Pinchuk.

Netanyahu mengatakan itu bukan pilihan yang mudah untuk membuat dan menggambarkan virus sebagai "musuh tak terlihat yang harus ditemukan." Dia mengatakan Israel akan mengikuti metode serupa yang digunakan oleh Taiwan.

"Selama bertahun-tahun sebagai perdana menteri, saya menghindari penggunaan alat-alat ini di kalangan masyarakat sipil, tetapi tidak ada pilihan," kata Netanyahu.

Sebelumnya, militer Israel mengatakan telah memerintahkan semua pasukan untuk kembali ke pangkalan mereka pada hari Minggu ini waktu setempat. Mereka diminta bersiap untuk tinggal lama tanpa cuti hingga satu bulan.

Pekan lalu siapa pun yang memasuki Israel diperintahkan untuk mengisolasi diri selama dua pekan dan sekolah-sekolah telah ditutup. Puluhan ribu warga Israel saat ini dikarantina.

Kementerian Kesehatan Israel mengatakan 193 orang telah dinyatakan positif, tanpa kematian. Mereka kebanyakan ialah menggunakan penerbangan internasional dalam dua pekan terakhir.[]

Redaktur: Andi Nugroho