Email Pep Guardiola Diretas, Hendak Dijual Rp1,8 Miliar

Pep Guardiola

Cyberthreat.id - Surat elektronik (email) pribadi milik pelatih Manchester City, Pep Guardola, diretas oleh mantan kontraktor IT klub itu. Email itu rencananya hendak dijual seharga 100 ribu Poundsterling atau setara Rp1,8 miliar. Namun, sebelum rencana itu terwujud, pelaku keburu ditangkap polisi.

Menurut media Inggris, The Sun, setelah membobol email Pep Guardiola, pelaku mendapatkan berbagai informasi, termasuk percakapan Guardiola dengan petinggi klub tentang rencana transfer pemain.

Dari komunikasi via email yang bocor itu, pelaku mengatakan Pep Guardoila sempat meminta Manchester City merekrut Matthijs De Ligt dari Ajax Amsterdam dan Sokratis Papastathopoulos dari Borussia Dortmund.

Sayangnya, rencana itu gagal terwujud. De Ligt pindah ke Juventus dan Papastathopoulus berkarir di Arrsenal sejak Juli 2018.

Selain rencana transfer pemain, peretas juga mendapat kontak pribadi beberapa pemain Manchester City seperti Joe Hart dan Vincent Kompany.

Menurut pelaku, peretasan email Guardiola adalah hal termudah yang pernah ia lakukan. Dia mengambil tangkapan layar dari pertukaran email Guardiola saat bekerja di sana pada 2017.

Kepada seorang penyelidik yang menyamar, pelaku mengatakan,"secara hipotesis, saya dapat mengaksesnya di telepon dan mengambil tangkapan layar karena saya adalah seorang kontraktor IT di sana," katanya.

Pria itu mengaku telah menjadi kontraktor untuk The Blues sejak 2016, hingga City mengakhiri hubungannya dengan perusahaan itu.

Dua hari setelah kontrak diputuskan, pada Juli 2017, ia mengakses akun Pep dari ponselnya, mengunduh email pribadi, mengakses pembicaraan rahasia seputar rencana transfer pemain dan mendapatkan seluruh daftar kontaknya.

Pria itu ditangkap polisi pada Senin lalu setelah The Sun memberi bukti-bukti kepada pemimpin Manchester City, yang kemudian meneruskan laporan itu kepada polisi..

Ini bukan pertama kalinya data City dibobol. Sebelumnya akun email resmi klub juga diretas yang mengakibatkan mencuatnya kasus penggelembungan dana sponsor pada 2012-2016.

Seorang juru bicara klub mengatakan,"Sementara kami telah menghentikan layanan konsultan ini dan perusahaan yang dikontrak dua tahun lalu, kami tidak mengetahui kejahatan serius ini. Ini adalah catatan penting bahwa kami telah menjadi target beberapa serangan kriminal melalui sistem IT kami dalam beberapa tahun terakhir."[]