Laporan Malwarebytes Lab

Ini 5 Jenis Serangan Siber Terbanyak Menyasar Indonesia

Ilustrasi: Peta serangan siber dunia

Cyberthreat.id - Malwarebytes, penyedia solusi keamanan siber yang berbasis di California, Amerika Serikat, hari ini merilis laporan serangan siber dalam berbagai bentuk di berbagai negara. 

Dalam laporan berjudul "2020 States of Malware Report" itu, Malwarebytes menyebut pada 2019 Indonesia menempati urutan lima besar negara-negara Asia Pasifik (APAC) yang terinfeksi serangan siber bersama Filipina, India, Thailand, dan Malaysia (di luar Australia, Selandia baru dan Singapura).

"Infeksi di Indonesia (dan sebagian besar negara lain) menunjukkan pola yang mirip dengan tren serangan di APAC secara keseluruhan, dengan ransomware WannaCry dan cryptominers menunjukkan kinerja yang kuat dalam katagori konsumen dan bisnis," tulis Malwarebytes Lab dalam laporannya.

Selain itu, menurut laporan Malwarebytes, hal yang mengkhawatirkan adalah ada  banyak aktivitas menggunakan eksploit EternalBlue yang terjadi dalam bentuk Worm.EternalRocks dan Trojan. Ada juga temuan Shadowbrokers yang menunjukkan pelaku bisnis tidak menambal kerentanan SMB sejak 2017.

"Ada juga Hacktool. Di tempat kelima, juga dipublikasikan oleh kelompok Shadowbrokers, sehingga pada 2019 di Indonesia memiliki perasaan retrospektif tentang hal itu," tulis Malwarebytes dalam laporannya.


Sumber: Laporan Malwarebytes Lab yang dirilis 11 Februari 2020

Ransomware WannaCry adalah jenis malware yang menyerang komputer korban dengan cara mengunci komputer atau semua file yang ada sehingga tidak bisa diakses. Serangan WannaCry menggemparkan dunia setidaknya di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia pada pertengahan tahun 2017. Korban di Indonesia saat itu RS Harapan Kita dan RS Dharmais.

Ada pun cryptominers adalah penambangan mata uang kripto seperti Bitcoin yang menggunakan sumberdaya komputer orang lain. Pelaku biasanya mengirimkan malware melalui lampiran atau tautan email berrbahaya.  Akibatnya, komputer yang terserang akan bekerja lebih lambat, kipasnya berputar tanpa sebab yang jelas, diikuti dengan lonjakan tagihan listrik.

Temuan Malwarebytes ini sejalan dengan pemaparan Analis Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Pratama Putra dalam sebuah diskusi di di kantor Cyberthreat.id pekan lalu. (Baca: Analis BSSN: Indonesia Masih Rawan Serangan WannaCry)

Pratama yang mendampingi Direktur Deteksi Ancaman BSSN Sulistyo mengatakan, Indonesia masih rawan menjadi target serangan ransomware WannaCry. Sebab, 83 persen perusahaan di Indonesia (menurut survey Business Software Alliance) masih menggunakan software bajakan.

"Serangan ransomware menargetkan celah pada protokol Blok Pesan Server (SMBv1) pada sistem operasi Windows. Penyerang menggunakan exploit EternalBlue untuk menyerang kelemahan pada SMBv1 yang belum ditambal," kata Pratama.[]