NEWS : Saatnya Indonesia Mulai Mencetak Talenta Ahli Cybersecurity

Saatnya Indonesia Mulai Mencetak Talenta Ahli Cybersecurity

Saatnya Indonesia Mulai Mencetak Talenta Ahli Cybersecurity
Ilustrasi | Foto: freepik.com
Oktarina Paramitha Sandy Jumat, 08 November 2019 - 13:22 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id – Indeks Keamanan Siber Global menempatkan Indonesia di peringkat ke-41 pada tahun lalu. Meski begitu, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan, salah satunya, kemandirian dalam teknologi.

“Karena dengan kemandirian tersebut, Indonesia dinilai akan lebih kuat lagi dalam hal keamanan siber,” kata Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC) Pratama D. Persadha dalam sebuah diskusi di Cyber Security Indonesia 2019 di JCC, Jakarta, Kamis (7 November 2019).

Selain itu, kata dia, Indonesia harus punya sistem keamanan sendiri, salah satunya, harus punya tools keamanan sendiri. Pratama mengatakan, talenta-talenta di bidang keamanan siber lokal cukup banyak tersedia dan belum diberdayakan.

Oleh karenanya, “Indonesia sudah harus mulai untuk mendidik anak-anak untuk menjadi ahli cybersecurirty. Tak hanya itu, diperlukan kerja sama antar stakeholder untuk meningkatkan standar keamanan siber,” Pratama menambahkan.

Sementara, Ketua HoneyNet Project Indonesia, Charles Lim, mengatakan, memiliki sistem keamanan siber yang mandiri hanya bisa didukung dengan sumber daya manusia yang mumpuni.

Hingga kini, Indonesia masih sangat kekurangan tenaga ahli dibidang tersebit. Untuk itu, ia mendorong pemerintah untuk membuka pelatihan dan pendidikan yang dikhususkan di bidang cybersecurity.

“Kami, melalui HoneyNet Project sudah mulai mengajak banyak universitas di Indonesia bekerja sama dalam hal cybersecurity sejak 2012,” ujar Charles.

Charles juga menekankan pentingnya Indonesia untuk segera memiliki regulasi keamanan dan ketahanan siber dan perlindungan data pribadi, “Sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam hal keamanan siber,” tutur Charles.

Idealnya, menurut dia, dalam hal implementasi memang yang paling bagus dimulai dari kebijakan atau regulasi, sehingga memudahkan regulator untuk membuat aturan-aturan teknis.

Literasi keamanan siber

Tak kalah pentingnya, Pratama menambahkan, soal literasi keamanan siber kepada masyarakat. Masyarakat menjadi salah satu komponen yang paling sering mendapatkan serangan siber harus diedukasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman siber.

Jika masyarakat sudah disiplin soal keamanannya sendiri, ia yakin Indonesia akan semakin baik dalam hal keamanan siber. Jika hanya mengandalkan teknologi yang canggih saja, kata dia, hal itu tidak akan cukup, tetapi juga harus menguatkan literasi digital ke masyarakat.

“Kita disiplinkan saja soal ganti password dan tidak membagikan OTP (one-time password) kepada orang lain. Itu cara yang paling mudah, tapi selalu diabaikan kan? Kalau semua sudah disiplin dari yang sederhana saja, lama-lama kita akan jadi aman kok,” tutur Pratama.

Sekadar diketahui, kode OTP adalah kode verifikasi atau kata sandi sekali pakai yang terdiri dari 6 digit karakter (seringkali angka) unik dan rahasia yang umumnya dikirimkan melalui SMS atau email. Kode ini biasa kita dapatkan jika mengakses internet banking, akses aplikasi, email atau transaksi online lain. Setiap kode yang dikirimkan ini umumnya hanya berlaku selama 5 menit.


Standardisasi dan Validasi Teknologi