NEWS : Diserang Hacker Hamas, Israel Balas Serangan Fisik

Diserang Hacker Hamas, Israel Balas Serangan Fisik

Diserang Hacker Hamas, Israel Balas Serangan Fisik
Gedung yang diserang pasukan militer Israel karena diduga sebagai tempat bersembunyi hacker Hamas, Sabtu (4/5/2019). Foto: ZDNet.com
Andi Nugroho Senin, 06 Mei 2019 - 10:52 WIB

Tel Aviv, Cyberthreat.id – Untuk pertama kalinya, Israel menggunakan kekuatan militer yang brutal untuk merespons serangan siber Hamas –tiga tahun setelah NATO menyatakan siber sebagai medan perang resmi dalam perang modern.

Militer Israel (Israel Defense Force/IDF) mengklaim telah menghentikan upaya serangan siber Hamas pada Sabtu (4/5/2019). Israel lalu membalasnya dengan serangan udara ke sebuah gedung yang diduga sebagai lokasi penyerang.

Namun, IDF tidak menjelaskan apa yang menjadi target Hamas. Namun, Shine Bet atau dikenal dengan agen kontraspionase Israel juga ikut dilibatkan dalam serangan itu. Peretas (hacker) Hamas memang dikenal selama bertahun-tahun memiliki kemampuan untuk membajak drone IDF.

"Kami berada di depan mereka sepanjang waktu. Saat mereka mencoba melakukan sesuatu, mereka gagal," ujar Brigjen D, Kepala Divisi Pertahanan Siber IDF.

Kepada The Times of Israel, IDF mengtakan, serangan siber itu dirancang untuk membahayakan kualias hidup warga Israel, tapi serangan itu segera dihentikan dengan cepat. "Setelah berurusan dengan dunia maya, Angkatan Udara lalu menghadapinya dengan fisik. Pada saat ini, Hamas tidak memiliki kemampuan operasional siber lagi," ujar jubir IDF, Brigjen Ronen Manlis seperti dikutip dari ZDNet, Senin (5/5/2019).

The Verge juga melontarkan kritik terhadap serangan fisik itu. "Serangan itu menimbulkan pertanyaan serius dan apa itu artinya. Prinsip umum peperangan dan hukum humaniter internasional menyatakan bahwa serangan harus proporsional sebagai respons," tulis The Verge.

Apalagi, IDF mengakui bahwa mereka telah menghentikan serangan siber sebelum serangan fisik udara. "Pertanyaannya apakah responsnya itu sesuai atau tidak? Bagaimana pun itu membuka evolusi yang mengkhawatirkan dalam perang modern, mengingat ancaman yang dapat ditimbulkan oleh peretas komputer terhadap pasukan militer atau negara," tulis The Verge.

AS Pertama Kali

ZDNet menuliskan, pada 2015 Amerika Serikat menjadi negara pertama yang merespons dengan kekuatan milter ketika menggunakan serangan pesawat tak berawak untuk membunuh Junaid Hussain, seorang warga Inggris yang diduga kelompok peretas ISIS dan diduga yang membocorkan informasi pribadi militer AS di Twitter.

Namun, "Respons Israel terhadap Hamas menandai pertama kalinya suatu negara bereaksi dengan pasukan militer langsung terhadap serangan maya dalam waktu nyata, bukan menunggu berbulan-bulan untuk membalasnya," tulis ZDNet.

Saat serangan itu, Israel juga telah melakukan serangan terhadap pasukan Hamas di Jalur Gaza setelah Hamas mengirimkan 430 roket di perbatasan Israel. Israel membalas dengan menyerang kantor intelijen militer Hamas. "Israel punya hak untuk membela diri," kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menanggapi serangan udra Israel di Jalur Gaza.

Dr Lukasz Olejnik, penasihat cybersecurity pada Center for Technology and Global Affaris Oxford University, mengatakan, serangan itu akan membuat analis bertanya-tanya. "Apa gunanya (serangan fisik itu)?" kata dia.

Dr Olejnik mengatakan, seharusnya setiap respons perlu mempertimbangkan banyak faktor seperti kompleksitas kondisi lapangan, termasuk intentisitas konflik dan lain-lain.

#israel   #hacker   #hamas   #serangan   #siber   #cyberattack   #israel   #hacker   #ISIS   #jalur   #gaza

Standardisasi dan Validasi Teknologi