LITERASI : Tips Melawan Penipuan di Media Sosial

Tips Melawan Penipuan di Media Sosial

Tips Melawan Penipuan di Media Sosial
Ilustrasi : Faisal Hafis
Arif Rahman Jumat, 20 September 2019 - 16:37 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Banyak pekerjaan rumah bersama yang menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai pengguna media sosial. Di era peradaban digital, media sosial bukan lagi sebagai ajang berinteraksi, tapi sebuah kebutuhan yang meningkatkan kualitas hidup manusia.

Semua kehidupan yang ada di dunia nyata hampir seluruhnya di dukung oleh dunia Maya. Fakta ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemangku wewenang dan pengambil keputusan, bahwa masyarakat butuh literasi dan edukasi yang berkesinambungan.

"Penipuan di media sosial menargetkan orang-orang dari semua latar belakang, usia, dan tingkat pendapatan. Tidak ada satu kelompok orang yang lebih cenderung menjadi korban penipuan, semua orang mungkin rentan terhadap penipuan pada suatu waktu," kata IT Security Consultant PT Prosperita - ESET Indonesia, Yudhi Kukuh di Jakarta, Jumat (20 September 2019).

PT Prosperita - ESET Indonesia melakukan sejumlah kajian dalam melihat fenomena penipuan di media sosial. Penipuan, kata dia, berhasil karena para pelaku membuat tawaran seolah menjadi nyata sehingga membuat orang lengah.

"Scammers juga semakin pintar dalam memanfaatkan teknologi baru, produk atau layanan baru dan peristiwa besar untuk membuat cerita yang dapat dipercaya untuk meyakinkan banyak orang agar memberi mereka uang atau informasi pribadi secara detail," ujarnya.

Firma keamanan ESET memberikan beberapa tips agar kita tidak menjadi korban penipuan berikutnya di media sosial:

1. Berhati-hatilah dengan informasi/pesan pribadi yang Anda bagikan di situs media sosial. Penipu dapat menggunakan informasi dan gambar yang Anda bagikan untuk membuat identitas palsu atau menargetkan korban dengan penipuan.

2. Tinjau pengaturan privasi dan keamanan di media sosial. Jika Anda menggunakan situs jejaring sosial, seperti Facebook, berhati-hatilah dengan siapa terhubung dan pelajari cara menggunakan pengaturan privasi dan keamanan untuk memastikan tetap aman.

3. Waspada saat berurusan dengan kontak yang tidak dikenal dari orang atau bisnis. Apakah itu melalui telepon, melalui surat, email, secara langsung, atau di situs jejaring sosial, selalu pertimbangkan kemungkinan bahwa pendekatan itu mungkin scam. 

4. Ketahui dengan siapa Anda berhadapan. Jika Anda hanya pernah bertemu seseorang secara online atau tidak yakin dengan legitimasi bisnisnya, luangkan waktu untuk melakukan riset lebih lanjut. Ini penting!

Lakukan searching di Google, lewat foto atau cari di internet. Apakah ada orang lain yang mungkin pernah berurusan dengan mereka. Jika sebuah pesan atau email berasal dari seorang teman dan tampaknya tidak biasa atau tidak sesuai dengan karakter mereka, hubungi teman Anda secara langsung untuk memeriksa apakah sebenarnya mereka yang mengirimnya.

5. Jangan buka teks yang mencurigakan atau jangan asal klik, pop-up windows atau klik tautan atau lampiran dalam email. Hapuslah Jika tidak yakin. Verifikasi identitas kontak melalui sumber independen seperti buku telepon atau pencarian online.

Jangan gunakan detail kontak yang disediakan dalam pesan yang dikirimkan kepada Anda.

6. Amankan perangkat seluler dan komputer Anda. Selalu gunakan perlindungan password. Jangan pernah berbagi akses dengan orang lain termasuk dari jarak jauh, perbarui software keamanan dan buat cadangan data.

Lindungi jaringan WiFi dengan password dan hindari menggunakan komputer umum atau hotspot WiFi untuk mengakses akun perbankan online atau memberikan informasi pribadi.

7. Hati-hati saat berbelanja online. Waspadalah terhadap penawaran yang tampaknya too good to be true, dan selalu gunakan layanan belanja online yang Anda kenal dan percayai.

Jangan pernah mengirim uang atau memberikan detail kartu kredit, detail akun online, atau salinan dokumen pribadi kepada siapa pun yang tidak Anda kenal atau percayai. Jangan setuju untuk mentransfer uang atau barang untuk orang lain: pencucian uang adalah tindak pidana.


Standardisasi dan Validasi Teknologi