LITERASI : Deep Learning, Teknologi Kunci Ekonomi Digital

Deep Learning, Teknologi Kunci Ekonomi Digital

Deep Learning, Teknologi Kunci Ekonomi Digital
Managing Director Southeast Asia RTB House Chandra Kuncara saat memberi sambutan dalam diskusi "The Future of E-Commerce" di Jakarta, Rabu (18 September 2019). | Foto: Faisal Hafis
Arif Rahman Rabu, 18 September 2019 - 22:11 WIB

Jakarta, Cyberthreat.id - Managing Director RTB House Asia Tenggara, Chandra Kuncara, mengatakan potensi Indonesia untuk mengembangkan deep learning sangat besar. Ia menyebut deep learning sebagai the next revolution of Artificial Intelligence (AI) yang akan menjadi kunci perkembangan ekonomi digital.

"Deep learning itu diawali AI kemudian dikembangkan lagi ke Machine Learning dan masuk ke Deep Learning," kata Chandra kepada Cyberthreat.id saat menggelar RTB House di Jakarta, Rabu (18 September 2019).

RTB berdiri sejak 2012 dan masuk Indonesia pada 2016. Mereka mengolah big data menjadi predictive analytics yang telah digunakan oleh Unicorn dan Decacorn di Indonesia hingga puluhan perusahaan pemasar online. Sebut saja Bukalapak, Blibli, Lazada, Fabelio, Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, Tiket.com, OYO Rooms dan Shopee.

Sejak awal berdiri RTB mengembangkan teknologi dengan algoritma sendiri sehingga berhasil menciptakan mesin retargeting customer. Dengan menggunakan deep learning, retargeting mampu memberikan prediksi, rekomendasi dan automation perilaku konsumen.

"Behavior customer itu kan bisa di track dan di trace. Kebiasaannya apa, kesukaannya apa. Nah, data-data itu kemudian kami retarget dengan deep learning sehingga bisa memprediksi apakah si customer mau membeli atau enggak," ujarnya.

Chandra mengatakan saat ini para customer RTB sudah sampai memiliki Demand Side Platform (DSP) yang mampu berkembang secara berkesinambungan berkat algoritma mesin pembelajaran yang canggih.

"Saya contohkan misalnya Si A suka helm. Itu kan Si A suka lihat-lihat dan ngecek barangnya kan. Biasanya nanti Si A enggak jadi beli," ujarnya.

"Nah, data-data itu kemudian di retarget dengan deep learning sehingga nanti bisa memprediksi apakah Si A mau membeli atau enggak. Atau apakah Si A ini akan membeli sekarang, beli pekan depan atau bulan depan pas gajian."

Head of Marketing Solutions Lazada, Astrid Utari, mengatakan Lazada sudah memasang target untuk meraih 300 juta customer pada 2030 yang akan menciptakan sekitar 20 juta lowongan pekerjaan di Asia. Untuk itu, kata dia, Lazada memerlukan deep learning agar bisa mempelajari pasar dan memetakan customer dengan akurat.

"Ketika anda masuk ke Lazada, itu seperti anda masuk ke sebuah mall, tapi diisi oleh 2 ribu toko yang menjual apa pun. Jumlah barangnya banyak sekali. Itu sebabnya kami perlu deep learning untuk mempelajari customer, kebiasaan customer, kesukaan customer dan sebagainya," kata Astrid.

Sejauh ini deep learning yang dilakukan Lazada dengan bantuan RTB mampu meningkatkan produktivitas perusahaan. Lazada, kata dia, mampu memprediksi dan menargetkan orang yang sedang butuh datang ke toko yang tepat. Atau orang yang ingin diskon datang ke toko yang sedang diskon.

"Platform kami benar-benar bekerja berdasar algoritma yang bisa membaca kebiasaan, perilaku dan karakter lainnya. Ini bisa mengarahkan orang untuk mengklik sesuatu dan membuat keputusan."

Lazada yang kini berada di bawah naungan Alibaba menetapkan deep learning yang berbeda di berbagai negara. Data yang didapatkan dan diolah tergantung berbagai variabel seperti kebiasaan, culture dan lain-lain.

"Setiap negara itu beda-beda karakternya. Ada yang bekerja untuk customer di Singapura sementara di Indonesia tidak berpengaruh sama sekali," ujarnya.

Sandy Lamond Kusuma, Senior Performance Advertising Analyst Blibli, mengungkap salah satu kesimpulan deep learning adalah customer di Indonesia lebih tertarik dengan kata diskon dan murah. Data-data dari dua kata iti kemudian diolah dan dikembangkan dengan AI, ML lalu deep learning.

"Sehingga menciptakan peta konsumen bagi kami. Itu juga yang melahirkan fitur Blibli O2 yang merupakan kombinasi belanja online dan offline," ujar Sandy.


Standardisasi dan Validasi Teknologi