AS Disebut Mengalami Tsunami Serangan Ransomware

Ilustrasi

Texas, Cyberthreat.id - Pakar dan penulis cybersecurity, Ionut Ilascu, menyebut Amerika Serikat (AS) mengalami tsunami serangan Ransomware. Negara bagian Texas mengalami serangan Ransomware pada 16 Agustus yang mengakibatkan setidaknya 23 sistem agensi Pemerintah lokal lumpuh dan terpaksa offline.

"AS menerima serangan Malware paling banyak di dunia. Menyumbang 53 persen dari insiden global," kata Ilascu dilansir Bleeping Computer, Senin (19 Agustus 2019).

Data Ilascu bersumber dari vendor cybersecurity Malwarebytes. Insiden yang menimpa Texas, kata dia, merupakan rangkaian serangan siber yang melanda AS sepanjang 2019.

Gubernur Louisiana, John Bel Edwards, menyatakan keadaan darurat pada Juli 2019, sebagai tanggapan atas serangan ransomware pada sistem komputer sekolah di beberapa distrik. Dua bulan sebelumnya sistem utama di Baltimore dihancurkan oleh serangan ransomware.

Penulis ZDNet, Catalin Cimpanu, mengatakan pihak keamanan siber di Texas telah mengidentifikasi Ransomware yang digunakan sebagai strain lalu diidentifikasi sebagai Nemucod oleh beberapa vendor keamanan.

"Cara kerjanya dengan mengenkripsi file kemudian menambahkan ekstensi .JSE di akhir," kata Cimpanu.

Tidak seperti biasanya Ransomware itu bahkan tidak meninggalkan/meminta catatan tebusan/ransom sehingga makin membingungkan para korban yang sebagian besar waktu tidak tahu apa yang terjadi.

Konferensi Walikota AS pada Juli 2019 menyatakan pemerintah kabupaten/kota di AS mengalami 22 serangan Ransomware sepanjang tahun 2019. Pada April serangan hacker jahat melumpuhkan sistem komputer pemerintahan di Albany, New York.

Kemudian pada bulan Juni peretas menyerang dengan menggunakan Ransomware ke dua kota di Florida: Lake City dan Rivera Beach. Dewan kota di kedua kota tersebut sepakat membayar uang tebusan yang berjumlah lebih dari 1 juta USD.