Bagaimana Grup Chat Gerakkan Unjuk Rasa di Hong Kong

Bagaimana Grup Chat Gerakkan Unjuk Rasa di Hong Kong
Unjuk rasa menentang RUU Ekstradisi di Hong Kong pada 17 Juni 2017. Foto: Instagram/hong_kong_protest
Rabu, 03 Juli 2019 - 08:48 WIB

Hong Kong, Cyberthreat.id – Di sebuah ruangan kecil di pinggiran kompleks bangunan, seorang pengunjuk rasa Hong Kong duduk.

Pada laptopnya, Tony (bukan nama sebenarnya) mengamati sejumlah kelompok pengguna aplikasi pesan instan, Telegram dan berbagai forum online.

Para penyelengara demonstrasi mengatakan relawan seperti Tony mengelola sejumlah grup Telegram yang menggerakkan protes Hong Kong dan menjadikannya sebagai sebuah kampanye “pembangkangan sipil”.

Penggerak unjuk rasa mengklaim lebih dari dua juta orang turun ke jalan dalam demo beberapa waktu lalu untuk menolak Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. RUU itu dikhawatirkan dapat mengakhiri kemandirian peradilan di Hong Kong.

Banyak desakan berunjuk rasa dilakukan secara anonim pada pesan dan grup chat lewat aplikasi pesan terenkripsi. Sejumlah kelompok memiliki sampai 70.000 pemakai aktif yang berarti mewakili satu persen penduduk Hong Kong.

Banyak orang memberikan laporan pandangan pertama atau perkembangan keadaan terbaru terkait dengan unjuk rasa, sementara yang lainnya memberikan informasi tentang kegiatan polisi.

Terdapat juga kelompok yang lebih kecil terdiri dari pengacara dan regu penyelamat darurat dan medis. Mereka memberikan masukan hukum dan memberikan berbagai jenis pasokan kepada demonstran di garis depan.

Internet Pilihan Cara Tercepat

Para pengunjuk rasa mengatakan koordinasi di internet memberikan cara yang lebih cepat dan mudah bagi penyebaran informasi. Grup chat juga memungkinkan para partisipan memberikan suara saat itu juga.

Pada 21 Juni malam, hampir 4.000 pengunjuk rasa memberikan suara di grup Telegram untuk menentukan apakah para demonstan pulang pada malam itu atau melanjutkan protes di luar markas polisi Hong Kong.

Hanya 39 persen yang memberikan suara ke pos polisi, tetapi pengepungan selama enam jam terus berlanjut. Aplikasi dan layanan lain juga membantu para pengunjuk rasa untuk mengorganisasi aksi mereka.

Di tempat umum, poster dan spanduk tentang aksi selanjutnya disebarkan lewat Airdrop, yang memungkinkan orang untuk berbagi dokumen dengan iPhones dan iPads terdekat secara cepat tanpa sambungan kabel.

Para pengunjuk rasa mengatakan teknologi menciptakan gerakan demonstrasi tanpa pemimpin ini.

"Ini (demonstrasi) merupakan hasil dari ketidakpercayaan terhadap para pejabat," kata Profesor Edmund Cheng, dari Hong Kong Baptist University.

"Kebanyakan pemimpin unjuk rasa Gerakan Payung dihukum dan dipenjara," katanya, mengacu kepada protes pro-demokrasi tahun 2014.

Pada April lalui, sembilan pemimpin demonstrasi dinyatakan bersalah karena mengajak orang untuk melakukan gangguan ketertiban umum. "Terdapat sejumlah dakwaan yang dapat diajukan jika Anda ikut serta gerakan atau protes yang jelas-jelas terorganisir," kata Tony.

Hapus Jejak Digital

Sebagian besar pengunjuk rasa Hong Kong, bahkan sampai berusaha tidak meninggalkan jejak digital. "Kami hanya menggunakan uang kontan, kami bahkan tidak menggunakan ATM saat demonstrasi," kata Johnny, 25 tahun, yang ikut serta demonstrasi dengan rekannya. Ia menggunakan telepon genggam lama dan kartu SIM baru setiap kali berunjuk rasa.

Admin kelompok lainnya –yang tidak ingin namanya disebut karena khawatir akan dihukum– mengatakan sejumlah orang menggunakan beberapa akun untuk menyembunyikan jejak digital.

"Sebagian dari kami memiliki tiga atau empat telepon, sebuah iPad dan laptop. Satu orang dapat menggunakan lima atau enam akun. Orang tidak akan mengetahui apakah mereka orang yang sama atau beberapa orang yang menggunakan satu akun," katanya kepada BBC.

Tony meyakini pengambilan keputusan lewat pemungutan suara kelompok telah melindungi orang dari pengenaan dakwaan.

Dia memandang admin kelompok chat tidak mendukung partai politik dan tidak dapat mengontrol posting para anggota di kelompoknya. "Pemerintah tidak akan menangkap setiap partisipan gerakan ini. Hal itu tidak mungkin dilakukan," kata Tony.

Namun, dia menyadari penegak hukum kemungkinan akan melakukan cara lain. "Mereka memiliki sasaran orang yang berpengaruh atau pemimpin pembentuk opini dan menjadikan mereka sebagai contoh untuk mencegah orang lain berpartisipasi."

Pada 12 Juni, satu admin grup Telegram ditangkap karena diduga bersekongkol dengan berbagai pihak lain untuk menggerebek kompleks badan legislatif Hong Kong dan membarikade sejumlah jalan di sekitarnya.

"Mereka menginginkan pihak-pihak lain mengetahui bahwa meskipun Anda bersembunyi di internet, mereka kemungkinan tetap akan menangkap Anda di rumah Anda," kata Bond Ng, seorang pengacara Hong Kong yang membela sejumlah pengunjuk rasa yang ditahan.


Standardisasi dan Validasi Teknologi