Situs Donor Plasma Akdoplak Pajang dan Tak Verifikasi Data, Begini Kata Inisiatornya
Cyberthreat.id - Situs akdoplak.com yang menjembatani pendonor dan pencari plasma konvalesen memajang detail data mereka termasuk nomor telepon. Selain itu, data yang diinput tidak melalui mekanisme verifikasi sehingga memungkinkan seseorang mengisi data palsu.
Inisiator situs web itu adalah dr.Khoirul Hadi, seorang penyintas Covid-19 yang telah sembuh. Khoirul merasa tergerak untuk menjembati kebutuhan plasma konvalesen bagi mereka yang membutuhkan. Sebab, kata dia, selama ini banyak korban Covid-19 yang kesulitan mencari plasma konvalesen.
Terlepas dari niat mulia itu, memajang detail data calon pendonor dan pencari plasma tanpa verifikasi data dapat berisiko penipuan bagi pemilik data.
Ditanya soal itu, Khoirul mengatakan dirinya berpikir positif karena itu untuk tujuan kemanusiaan.
"Iya, bisa dimungkinkan begitu (penipuan). Tapi mudah-mudahan diisi oleh orang-orang baik, yang berniat baik, karena untuk aksi kemanusiaan dan keikhlasan. Biar tidak ada yang mengatakan bahwa kita ini sudah menjadi orang-orang yang tidak lagi mampu khusnuzon," kata Khoirul saat dihubungi Cyberthreat.id, Senin (11 Januari 2021).
Lebih lanjut, Khoirul meminta Cyberhtreat.id menghubungi tim IT yang membuat situs tersebut bernama Fajar Gigih Yanuar Iskandar. Menurut Fajar, dirinya menyadari bahwa format menampilkan data diri calon pendonor dan pencari plasma di situs itu rentan disalahgunakan.
"Saya sudah sampaikan kepada pak Khoirul, namun beliau menginginkan datanya dimunculkan agar memudahkan bagi siapa pun, termasuk mereka yang gaptek sekali pun," kata Gigih.
Menurut Gigih, idealnya memang data seperti nomor telepon tidak langsung dimunculkan untuk publik, melainkan bisa difasilitasi dalam bentuk chat. Setelah itu, barulah calon pendonor dan pencari plasma bisa saling tukar data di platform chat, sehingga hanya mereka berdua yang mengetahui datanya.
"Mungkin setelah ini akan dilakukan perubahan, saya menunggu saja instruksi dari beliau," kata Gigih.
Dia mengaku, dari awal sudah menyiapkan format berbagi data yang aman antara calon pendonor dan pencari plasma, hanya tinggal diterapkan saja.
Saat dikonformasi kembali kepada Khoirul Hadi terkait kemungkinan memfasilitasi komunikasi pendonor dan pencari plasma dalam bentuk chat, Khoirul menjawab,"Kalau chat harus pakai login, kan perlu register, autentikasi dan lain-lain. Dulunya mau seperti tiu, tapi ingat masyarakat kita masih banyak yang luar biasa gaptek. Maka saya kasih disclaimer (mungkin nanti bisa dibaca)."
Amatan Cyberthreat.id, hingga siang ini, jumlah pendonor dan pencari plasma yang mendaftar di sana telah mencapai 200-an orang.
Secara sederhana, ajakan donor plasma konvalesen ini berpijak dari pemahaman bahwa seorang penyintas infeksi akan membentuk antibodi di tubuhnya setelah sembuh. Antibodi itu tersimpan dalam plasma darahnya. Karena itu, antibodi itu diharapkan mampu melawan infeksi yang dihadapi korban Covid-19.
Sebelumnya, Cyberthreat.id mencoba mendaftar untuk menguji apakah data yang dimunculkan di website tersebut terverifikasi atau tidak.
Menggunakan nama Deni Mulya dan berasal dari kota Banda Aceh, Cyberthreat.id mengisi data-data yang diminta termasuk nomor telepon, namun bukan nomor asli. Setelah semua data diisi dan data terkirim, saat itu juga data yang diisi langsung tertera di halaman depan website itu. Padahal, nomor telepon yang dimasukkan bukan nomor sebenarnya. Artinya, tidak ada verifikasi apa pun terhadap data yang ditampilkan di website itu. Bahkan, ketika Cyberthreat.id kembali mendaftar dengan data yang sama, data kembar itu juga muncul di website tersebut.
Cyberthreat.id kemudian menghubungi salah satu calon pendonor yang nama dan nomor teleponnya tertera di sana yaitu Nabila Deia.
Saat dihubungi, Nabila mengaku dirinya memang baru saja mendaftar di website itu untuk pendonor. Namun, dia mengatakan belum siap mendonor.
"Maaf, dalam waktu dekat saya belum bisa donor dulu," katanya yang mengaku dari Surabaya.
Saat ingin dihubungi lewat panggilan suara WhatsApp, Nabila menolaknya dengan alasan sebaiknya lewat pesan teks saja.
Ditanya apakah sudah ada yang menghubunginya dari pengelola website, Nabila mengatakan belum ada dan baru Cyberhtreat.id yang menghubunginya terkait pendaftaran sebagai calon pendonor plasma itu. (Lihat: Situs Akdoplak Galang Donor Plasma untuk Obati Covid19, tapi Tanpa Verifikasi Data).
Dari temuan Cyberthreat.id, data calon pendonor dan pencari plasma yang dimunculkan di situs itu bisa jadi benar, namun tidak menutup kemungkinan ada data abal-abal mengingat tidak ada proses verifikasi data apa pun dari situs itu terhadap calon pendonor atau pencari plasma konvalesen itu.[]
Update:
Setelah Diberitakan Cyberthreat.id, Situs Donor Plasma Covid-19 Akdoplak Dimatikan Sementara