Pakar: Medsos Membentuk Lanskap Politik, Masyarakat Harus Lebih Pintar
Cyberthreat.id - Sosiolog politik Dani Muhtada mengatakan pengaruh media sosial telah terbukti mampu membentuk lanskap politik nasional. Menurut dia, pembentukan lanskap politik tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi di seluruh negara, dimana masyarakat di era digital sudah tidak bisa dipisahkan dengan interaksi di dunia Maya.
"Media sosial memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk lanskap politik, baik itu bernuansa positif maupun bernuansa negatif," kata Dani Muhtada dalam Webinar, Selasa (7 Juli 2020).
Indonesia merupakan salah satu pengguna media sosial terbesar dan paling aktif di dunia. Bahkan laporan We Are Social bekerjasama dengan Hootsuite menyatakan 59 persen dari 272,1 juta penduduk Indonesia menggunakan media sosial per Januari 2020.
Itu sebabnya medsos berpengaruh signifikan jika potensinya digunakan untuk kepentingan politik. Menjelang kontes demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020, media sosial kembali akan dimanfaatkan politikus atau partai politik untuk kepentingan kampanye atau membentuk opini publik.
"Kita melihat bagaimana pengaruh medsos ini di dalam atmosfir perpolitikan nasional kita. Ketika ada Pilpres tahun 2019, bisa dilihat ada polarisasi yang sangat tajam antara kelompok pendukung pasangan 01 (Jokowi - Ma'aruf Amin) dan pasangan 02 (Prabowo Subianto - Sandiaga Uno)."
"Bahkan istilah kecebong dan kampret juga dipopulerkan di media sosial," tegasnya.
Terdapat sejumlah hal yang membuat media sosial sangat "powerful". Menurut Dani, salah satunya adalah kecepatan informasi yang tidak dimiliki oleh media-media sebelumnya, dimana informasi bisa disampaikan di wilayah yang luas dan masif dalam waktu singkat.
"Kalau kita lihat sebelum ada era internet, yaitu media cetak dan koran. Orang kalau ingin mengakses informasi yang ada di koran harus menunggu satu hari untuk koran ditulis wartawan, kemudian di-edit redaktur, naik cetak baru kemudian disebarluaskan."
Kemudian, kata dia, ada juga era audio visual yang merujuk ke era Televisi dan Radio. Menurut Dani, pada era tersebut kecepatan informasi yang didapat masyarakat jauh lebih cepat di bandingkan era media cetak namun tetap saja masih ada proses penggodokan berita (butuh waktu) sebelum berita di-publish.
Korban Informasi
Di era kekinian dan semuanya terkoneksi dengan informasi yang melimpah, masyarakat Indonesia mendapati berbagai macam portal berita online yang memberikan kecepatan berita dan juga faktual.
Meskipun didalamnya tetap saja harus melewati proses penggodokan berita, seperti proses editing, tetapi tidak bisa disamakan dengan media sosial yang jauh lebih unggul di segala hal.
"Melalui media sosial seseorang bisa langsung berbagi informasi jauh lebih cepat. Sehingga, orang bisa menangkap apapun yang terjadi pada saat itu juga tanpa harus melalui proses editing informasi."
Lebih lanjut, aliran informasi di media sosial juga berkembang ke arah pengaburan informasi, pembelokan informasi, sehingga perlu diperhatikan faktualitas dari informasi di media sosial.
"Sehingga mana berita yang kabar burung, berita hoax, atau mana yang faktual tidak bisa dipisahkan."
"Siapapun yang menelan berita itu mentah-mentah akan menjadi korban," tegasnya.
Dani meminta masyarakat bertindak lebih kritis terhadap sebuah informasi dan berita yang dihasilkan atau disebar di media sosial. Jangan mudah percaya terhadap informasi yang diberikan oleh seseorang atau sumber yang tidak diketahui kredibilitasnya. []
Redaktur: Arif Rahman