Survei Reuters: Dunia Makin Khawatir Terhadap Hoaks

Ilustrasi | Foto: Freepik

Oxford, Cyberthreat.id - Survei Reuters Institute bersama Oxford University, Inggris, menyatakan saat ini semakin banyak orang di dunia khawatir terhadap disinformasi dan hoaks.

Survei daring terhadap 75 ribu orang dilakukan di 38 negara. Fokus survei di Eropa, tapi Reuters Institute tetap memasukkan responden dari pasar Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Malaysia, Singapura, dan Australia. 

Entah mengapa responden asal Indonesia tidak dimasukkan, sedangkan pasar Amerika Latin seperti Brasil, Argentina, Chile dan Meksiko masih dianggap. Termasuk pasar Amerika Serikat dan Kanada yang sangat diperhitungkan.

Hasil survei menyatakan sekitar 55 persen responden khawatir terhadap hoaks yang beredar di dunia maya. Penyebaran hoaks dan disinformasi ditengarai sangat masif dan cepat dengan korban tak pandang bulu.

"Di tengah kekhawatiran itu, publik juga enggan membayar untuk produk jurnalisme yang lebih baik atau pun mendapatkan sumber informasi yang lebih jernih," tulis laporan survei bertajuk Reuters Digital News Report 2019, Rabu (12/06/2019).

Lebih dari 70 persen responden membenarkan pertanyaan 'Saya khawatir tentang mana yang benar dan mana yang palsu di internet'. Jumlah itu meningkat 12 persen dari survei tahun lalu yang berada di angka 58 persen.

Memang terdapat usaha dari responden untuk mencari atau beralih ke sumber berita yang lebih terpercaya yaitu sebanyak 40 persen. Namun, reputasi serta penilaian kualitas berita yang lebih terpercaya diserahkan kepada responden.   

"Saya pikir yang Anda percayai adalah media tradisional yang sudah ada sejak lama seperti BBC, Guardian, dan Independent," kata seorang responden asal Inggris. 

Secara global kepercayaan terhadap media mainsteram juga mengalami penurunan. Ada berbagai penyebab seperti kepentingan politik maupun ekonomi. Misalnya di Prancis, hal seperti itu didorong perpecahan karena liputan berbagai protes rompi kuning.

Di Inggris, persentase berita yang dipercaya juga turun dari 51 persen pada 2015 menjadi 40 persen tahun 2019. BBC masih menduduki peringkat teratas sebagai sumber berita paling tepercaya disusul ITV News, Financial Times, dan Channel 4 News.