Pentingnya Penguasaan Data di Era Digital

Ilustrasi

Jakarta, Cyberthreat.id - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara kembali mengingatkan pentingnya penguasaan data di era digital. Data dalam jumlah banyak berarti ketersediaan informasi yang berlimpah sehingga bisa menjadi kekuatan suatu bangsa.

"Siapa pun tidak bisa menghindarkan dari adanya data free flow karena di era digital semua data itu harus dipertukarkan," kata Rudiantara kepada wartawan usai halalbihalal di Kementerian Kominfo di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Dalam beberapa tahun ke depan data free flow bernilai ratusan miliar sehingga negara-negara sedang berlomba melakukan pengumpulan data. Pihak yang mampu mengolah data dalam jumlah besar dipastikan akan mendapatkan keuntungan besar. 

Di era kapitalisme digital, things telah diambil alih oleh konten yang menjadi emas baru untuk ditambang. Konten digital yang ditambang itulah yang disebut big data yang bisa dianalisis dengan berbagai teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembelajaran mesin (machine learning).

Bayangkan jika triliunan data yang diproduksi miliaran manusia hanya dikuasai Google, Facebook, Rolls Royce, atau General Electric.  Era digital memperlihatkan suatu bentuk sistem eksploitasi baru yang oligarkis.

Dan, Google memang dikenal pioner pemanfaatan big data.

"Makanya, dalam waktu dekat kami akan punya UU Perlindungan Data Pribadi yang tujuannya adalah mengawal  pertukaran data," ujar dia.

Industri Penerbangan

Rudiantara mencontohkan pemanfaatan big data pada industri penerbangan yang bisa menghemat puluhan miliar dalam hal pemeliharaan. Data-data dari setiap jam terbang, misalnya, mesin pesawat, dikumpulkan kemudian dipilah menjadi informasi yang bisa diolah.

Setelah itu dilakukan analisis big data yang dipadukan dengan kecerdasan buatan. Dari situ didapatkan informasi untuk mengambil keputusan, misal, mengganti suku cadang dan sebagainya untuk menjalankan operasi jasa penerbangan.

Di Indonesia, kata dia, tugas tersebut dilakukan Garuda Maintenance Facility (GMF) yang bisa melakukan ekstrak data setiap saat. Data-data ini kemudian dikirim langsung ke produsen pesawat atau produsen mesin yang merupakan perusahaan raksasa multinasional. 

"Kalau dihitung saving-nya, secara total, industri airline bisa hemat puluhan miliar dari data-data ini," ujarnya.

Hal serupa di dunia kedokteran yang menyimpan banyak data berharga mulai dari rekam medis hingga membaca kecenderungan penyakit. Chief RA juga menuturkan potensi besar data transaksi Indonesia lewat pengguna ponsel.

Ia memperkirakan, saat ini terdapat sekitar 175 juta pengguna ponsel aktif di Indonesia. Misal, satu ponsel menyimpan 10 data transaksi per hari yang bisa saja berasal dari SMS, pesan WA, browsing, mengirim laporan hingga transfer bank.

Itu artinya terdapat aliran data sekitar 1,75 miliar per hari di ponsel warga Indonesia. Jika dikapitalisasi aliran data itu bisa menjadi nilai ekonomi yang tinggi sebagaimana pembahasan Forum Menteri G-20 di Jepang 8-9 Juni lalu. "Ini harus kita pikirkan dalam 5 sampai 10 tahun ke depan," tegasnya.

Untuk menyongsong peradaban digital, Rudiantara mengatakan, Indonesia menyiapkan langkah membangun kualitas sumber daya digital. Menurut dia, pembangunan SDM seiring dengan komitmen pemerintah Presiden Joko Widodo yang ingin membangun manusia di periode kedua.

"Indonesia itu setidaknya butuh 600 ribu talenta digital per tahun, tapi saat ini kita baru bisa 25 ribu. Saya pikir menambah jumlah itu bisa dicapai karena Pak Presiden kan mendukung sekali," ujar dia.