YouTube di AS Lawan Disinformasi Covid-19 dengan Fitur Cek Fakta

Ilustrasi

Cyberthreat.id - YouTube meluncurkan fitur "informasi pemeriksaan fakta" bagi pengguna yang ada di Amerika Serikat (AS). Cek fakta diperlukan untuk melawan disinformasi dan hoax terkait Covid-19. Jika tidak dibantah atau tidak ditanggulangi, disinformasi dan hoax bisa menjadi masalah yang lebih besar di dunia Maya maupun dunia nyata.

Panel ini sebelumnya sudah diperkenalkan pada 2019 lalu di Brasil dan India. Kedua negara padat populasi itu banyak sekali kejadian hoax dan disinformasi yang berujung konflik, kekhawatiran meluas, hingga kekerasan. Dan YouTube menjadi salah satu platform favorit menyebarkan hoax.

Chief Product Officer YouTube, Neal Mohan, mengatakan panel ini akan muncul pada kolom pencarian untuk topik tertentu di mana pemeriksa fakta telah menerbitkan artikel yang relevan tentang Covid-19. Langkah ini muncul setelah YouTube melihat lonjakan disinformasi terkait Covid-19 dan asal-usulnya, kemungkinan penyembuhan, dan subjek lainnya.

"Ketika pengguna ingin mencari tentang klaim tertentu di YouTube, kami ingin memberikan kesempatan bagi pemeriksa fakta untuk muncul saat itu juga. Salah satunya, ketika pengguna mencari informasi mengenai covid-19," kata Mohan dilansir The Verge, Selasa (28 April 2020).

Mohan menyatakan panel cek fakta YouTube merupakan platform keroyokan. Lusinan stakeholder terlibat dan berpatisipasi dalam jaringan pemeriksa fakta seperti The Dispatch, PolitiFact, The Washington Post Fact Checker, FactCheck.org dan lain-lain.

Langkah ini semakin menegaskan komitmen YouTube untuk mengurangi penyebaran informasi yang keliru di platform mereka sekaligus menjadi bagian dari perubahan di perusahaan induknya Google. Dalam beberapa tahun terakhir Google mulai mengambil pendekatan yang lebih intervensionis dalam mengawasi platform.

YouTube juga telah menambahkan "rak" berita terkini/terbaru dari sumber utama yang terpercaya serta tautan ke entri ensiklopedia untuk video yang mengandung disinformasi dan teori konspirasi.

YouTube kemudian menambahkan tautan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, dan otoritas kesehatan setempat dalam pencarian informasi tentang COVID-19. Tautan ini akan memberikan pengertian kepada pengguna agar mengakses kepada sumber yang sah, valid, dan terpercaya.

Pandemi Covid-19 juga telah memaksa YouTube untuk mengurangi ketergantungannya pada moderator konten pihak ketiga. Mohan mengatakan, "hal ini membuat YouTube harus mandiri dalam pemeriksaan fakta, meskipun membutuhkan waktu lebih lama bagi perusahaan untuk menanggapi laporan".

"Karena terdapat banyak tindakan yang dilakukan oleh mesin-mesin ini, kadang-kadang banding tersebut dipengaruhi dalam hal waktu respons kami. Tapi secara umum, kami sudah bisa mengelola ini," kata Mohan.

Di masa yang akan datang, YouTube berencana memperluas pemeriksaan fakta ke negara-negara lain. Kemudian video-video yang masuk YouTube secara bertahap akan diperiksa atau melalui cek fakta sebel disajikan ke pengguna. []

Redaktur: Arif Rahman