Jepang Investasi Rp 3,8 Triliun Membangun Sistem AI
Cyberthreat.id - Kementerian Pertahanan Jepang akan berinvestasi sebesar ¥ 25,6 miliar ($ 237,12 juta) atau setara dengan Rp 3,8 triliun untuk membangun dunia cyber-nya yang mencakup pengembangan sistem berbasis Artificial Intelligence (AI) guna melawan setiap upaya serangan cyber di masa yang akan datang.
Sistem itu akan secara otomatis mendeteksi email jahat, menilai berbagai ancaman menggunakan teknologi AI serta bagaimana merespons terhadap serangan siber.
"Tokyo setidaknya telah mendedikasikan ¥ 30 juta ($ 277.771 / Rp 490 miliar) untuk proyek tersebut," kata Kemhan Jepang dalam sebuah keterangan dilansir Defense World, Senin (30 Maret 2020).
Kementerian juga ingin membangun Sistem Pengumpulan Informasi Cyber seharga ¥ 3,4 miliar ($ 31,5 juta/ Rp 515 miliar) untuk mengumpulkan informasi tentang taktik, teknik, dan prosedur (TTP) serangan cyber terhadap Kementerian Pertahanan atau Pasukan Bela Diri (SDF).
Kemudian memperluas Cyber Defense Group dari 220 personel menjadi 290 personel dan melakukan penelitian tentang langkah-langkah keamanan siber untuk perangkat jaringan yang digunakan oleh militer Jepang.
Pada Januari 2020, Jepang sempat kerepotan kala serangan cyber besar-besaran diluncurkan terhadap Mitsubishi Electric yang diduga dilakukan oleh kelompok cybercrime asal China.
Penemuan ini terungkap setelah korporasi raksasa melihat aktivitas tidak teratur pada perangkat yang berlokasi di Jepang. Mitsubishi juga menemukan akses ilegal ke bagian manajemen di kantor pusatnya dan di sejumlah tempat lain.
Serangan itu dikatakan telah mengkompromikan pertukaran email antara Kementerian Pertahanan Jepang, Otoritas Peraturan Nuklir, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proyek dengan perusahaan swasta lain, operator kereta api, komunikasi, dan produsen mobil lainnya di Jepang.