Ngeri, 20 Juta Serangan Siber Mengancam Indonesia Per Bulan
Jakarta, Cyberthreat.id - Analis IT dan Huawei Cybersecurity Solution Indonesia, Dennis Hartanto, mengatakan ancaman siber di tahun 2019 terus meningkat dengan berbagai variasi.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) punya data akurat bahwa sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami 232.447.974 serangan siber. Sementara Pemerintah melalui Menkominfo, Rudiantara, telah menyatakan Indonesia sebagai salah satu target empuk serangan cyber.
"Jadi, kita itu target dan disebutkan bahwa Indonesia berada di 10 besar sasaran. Kita tentu ngeri mendengarnya," kata Dennis dalam sebuah seminar di Jakarta beberapa waktu lalu.
Di tengah trend revolusi industri 4.0, keamanan perangkat terkoneksi ke jaringan harus ditingkatkan seiring dengan semakin banyaknya jenis perangkat yang terkoneksi. Sepanjang 2018 Indonesia menghadapi hampir 20 juta serangan cyber perbulan.
"Tahun 2018 serangan cyber itu 10 juta sampai 20 juta itu diarahkan ke seluruh Indonesia. Mengancam mulai dari perorangan secara pribadi, company atau enterprise atau perusahaan, BUMN atau pemerintah seperti Kementerian, Kepolisian hingga militer."
Riset Accenture Cyber Threat Report 2018 menyatakan 70 persen dari responden kewalahan menghadapi serangan. Para korban, kata Dennis, tidak mampu mendeteksi serangan yang disebut sebagai black box atau gelap tersebut.
Akibatnya para korban tidak tahu apa yang terjadi di jaringannya atau kerusakan apa yang telah mengancam infrastruktur internet mereka.
"Kita itu cenderung merasa aman, tapi sebenarnya tidak aman. Saat kita merasa server atau komputer kita baik-baik saja, tapi ternyata di belakang komputer atau server itu beroperasi sebuah aplikasi yang dijalankan oleh hacker."
"Misalnya, kenapa server kita lambat sementara kita merasa aman, tapi faktanya perangkat kita sudah dimanfaatkan atau disusupi hacker," ujarnya.
Dennis memaparkan tiga langkah preventif agar perangkat jaringan tidak rentan mengalami serangan cyber. Huawei, kata dia, memiliki tahapan yang diawali dengan deteksi serangan, investigasi serangan hingga respon terhadap serangan tesebut.
Deteksi serangan berkaitan dengan pengamanan dan pengamatan terhadap potensi serangan. Ia mengibaratkan deteksi ini sebagai CCTV yang memonitor traffic jaringan berbasis big data.
Kemudian setelah terdeteksi dilakukan investigasi yang kaitannya dengan siapa yang melakukan serangan.
"Bagaimana si penyerang ini bisa masuk ke jaringan kita, kemudian apa yang dicuri oleh penyerang, apa motifnya. Itu kan kita perlu tahu," ujarnya.
Langkah ketiga adalah bagaimana kita merespon serangan tersebut. Dennis mengatakan Hua Wei berhasil menciptakan sebuah sistem atau perangkat keamanan cyber berdasarkan kolaborasi antara tiga langkah tersebut.
"Huawei punya solusinya. Konsepnya kita namakan SDSec (software defense security) yang merupakan kolaborasi antara perangkat enforcer (yang isinya firewall, switch, anti-DDos) dan juga controller yang mengontrol masing-masing perangkat security tersebut. Jadi kolaborasi antara ketiganya menciptakan sistem keamanan berbasis Software."