419 Juta Data & Nomor Telepon Bocor, Ini Kata Facebook
California, Cyberthreat.id - Juru bicara Facebook, Jay Nancarrow, menanggapi kabar kebocoran data 419 juta pengguna yang telah dimuat berbagai media di Amerika Serikat dan dunia internasional. Jay mengatakan data yang telah berpindah tangan tersebut telah dihapus sebelum Facebook berupaya memotong akses ke nomor telepon pengguna.
"Kumpulan data itu sudah lama dan tampaknya memiliki informasi yang diperoleh sebelum kami melakukan perubahan tahun lalu," kata Jay dilansir TechCrunch, Kamis (5 September 2019).
Jay menjelaskan Facebook sebelumnya telah mengambil langkah antisipatif dengan cara memotong jalan agar orang lain tidak bisa mengambil data lama tersebut. Termasuk dengan mengamankan nomor telepon pengguna.
"Kumpulan data itu sebenarnya telah dihapus dan kami belum melihat bukti bahwa akun Facebook dipakai untuk dikompromikan bersama pihak lain," ujarnya.
Pertanyaan terbesar sebenarnya adalah siapa yang mengambil data tersebut. Kapan data itu diambil dan kenapa bisa terjadi. Padahal Facebook diketahui telah sejak lama membatasi pengembang/pihak ketiga untuk bisa mengakses sampai ke nomor telepon pengguna.
Facebook juga mengklaim telah mempersulit pencarian nomor telepon di akun-akun, termasuk akun yang sudah menjadi teman. Tetapi data tersebut tampaknya dimuat ke dalam sebuah database terbuka akhir Agustus lalu meskipun itu tidak berarti bahwa data tersebut baru.
Data breach 419 juta pengguna Facebook ini adalah contoh kerentanan terbaru dimana data-data yang disimpan secara online ternyata bisa dengan mudah diakses publik tanpa kata sandi.
Ini sangat 'telanjang' dan rentan karena data pengguna yang bocor terdapat di berbagai negara diantaranya 133 juta data yang bocor berasal dari Amerika Serikat (AS). Lalu, 18 juta dari Inggris dan 50 juta pengguna asal Vietnam.
Meskipun data breach sering dikaitkan dengan kesalahan manusia (human error) daripada pelanggaran berbahaya atau percobaan serangan siber (cyber attack), perlindungan dan keamanan data tetap merupakan masalah keamanan yang paling berbahaya.