Era Transformasi Digital, Penjahat Siber Makin Canggih
Jakarta, Cyberthreat.Id - Pesatnya transformasi digital dalam berbagai platform dinilai berbanding lurus dengan pentingnya keamanan siber bagi perusahaan. Sebab, para penjahat siber juga kian canggih dalam menjalankan aksinya.
Hal itu disampaikan CEO Stonetreegroup, Patrick Dannacher saat berbicara dalam InfoSec Summit Indonesia yang digelar perusahaan keamanan siber ITSEC ASIA di Jakarta, Kamis 28 Agustus 2019.
InfoSec Summit adalah acara khusus untuk pembuat kebijakan keamanan siber (cybersecurity), inisiator, profesional, inovator, penyedia layanan dan dan konsumen sebagai pengguna akhir.
“Saya sangat meyakini bahwa keamanan siber akan menjadi bagian integral dalam setiap organisasi, tak peduli bagaimanapun ukurannya,” kata Patrick.
Menurut Patrick, serangan siber kini telah berevolusi menjadi sangat marak dan canggih.
Dengan munculnya teknologi generasi berikutnya seperti pembelajaran mesin (machine learning), kata Patrick, penjahat siber menciptakan teknik yang lebih kompleks, efektif dan berbahaya.
Selain itu, meningkatnya penggunaan perangkat pintar yang menghadirkan konektivitas juga memungkinkan para peretas untuk mengakses informasi keuangan atau pun informasi sensitif lainnya dengan lebih mudah.
"Dengan terhubungnya sekitar 20 miliar perangkat IoT pada 2020, maka akan tercipta pula peluang besar bagi penjahat siber untuk mengekploitasi kondisi tersebut," tambah Patrick.
Kejahatan siber tingkat tinggi baru-baru ini telah menyebabkan perusahaan di seluruh dunia mengantisipasi kemungkinan adanya kerentanan dan implikasi negatif pada bisnis mereka.
Tahun lalu, total pengeluaran keamanan siber di Asia Tenggara diperkirakan mencapai USD1,90 miliar dan diperkirakan akan tumbuh hingga USD5,45 miliar pada tahun 2025.
Senior Vice President DigiCert untuk Asia Pasifik, Ray Garnie, menambahkan, di era perangkat saling terkoneksi karena terhubung oleh teknologi IoT, terutama router dan kamera yang menjadi target utama serangan terhadap IoT pada 2018, mendesak Indonesia untuk menggunakan pendekatan yang lebih luas dalam menangani masalah keamanan digital.[]