Peretas Ukraina Menargetkan Infrastruktur Industri Perbankan Rusia
Cyberthreat.id – Peretas pro-Ukraina diketahui telah menargetkan layanan perbankan di Rusia, setelah sebelumnya menargetkan pemasok telekomunikasi utama.
Dikutip dari Info Security Magazine, sebuah kelompok yang menamakan dirinya "Cyber Anarchy Squad", mengumumkan berita peretasan tersebut melalui akun resmi mereka di Twitter selama akhir pekan.
“Pada 8 Juni, pasukan siber anarkis Ukraina meledakkan InfoTel, yang memasok layanan komunikasinya ke ratusan perusahaan lain, seperempat di antaranya adalah bank Rusia, akibat serangan ini klien mereka mengalami depresi berat,” kata kelompok tersebut.
Saat ini penyedia layanan JSC Infotel, yang memfasilitasi akses ke sistem antar perbankan Automated Electronic Interactive System (ASEV).
Sementara itu, peneliti keamanan Kevin Beaumont melaporkan berita di Mastodon, mengklaim kelompok Ukraina telah "menghapus" infrastruktur Infotel dari jarak jauh. Bahkan, pembaruan dari perusahaan untuk mitra dan pelanggan yang diposting ulang oleh Beaumont mengkonfirmasi berita tersebut.
“Kami informasikan bahwa akibat serangan hacker besar-besaran pada jaringan JSC Infotel, sebagian peralatan jaringan rusak. Pekerjaan restorasi saat ini sedang berlangsung. Tenggat waktu penyelesaian pekerjaan akan diumumkan sebagai tambahan.”
Beaumont mengatakan bahwa setelah dua setengah hari pemadaman, perusahaan akhirnya memulihkan perutean BGP, meskipun pemadaman berlanjut untuk pelanggan karena router tidak berfungsi. Sedangkan, menurut laporan Ukraina, insiden itu membuat bank dan serikat kredit Rusia tidak dapat mengakses sistem perbankan atau melakukan pembayaran.
Seperti diketaui Operasi hacktivist tampaknya telah diatur waktunya bertepatan dengan peluncuran serangan balik Ukraina yang telah lama ditunggu-tunggu. Ini bukan pertama kalinya sistem perbankan Rusia menjadi sasaran para peretas pro-Ukraina.
Pada Desember 2022, bank terbesar kedua di negara itu mengungkapkan serangan DDoS yang digambarkan sebagai serangan terbesar yang pernah ada. Peretas pro-Rusia juga telah aktif selama perang, menyerang tidak hanya target di Ukraina tetapi juga negara-negara sekutu. Bahkan, serangan siber terhadap lembaga keuangan Inggris meningkat 81% sejak invasi Ukraina, menurut laporan Januari.