Teknologi AI Palantir Dipakai Ukraina untuk Targetkan Tank Lawan

Ilustrasi. Foto: Bulletin of the Atomic Scientists

Cyberthreat.id –  Perusahaan analisis data, Palantir, menyatakan, telah membantu Ukraina selama dalam perang dengan Rusia. CEO Alex Karp pada Rabu (1 Februari 2023) mengatakan, kerja samanya dengan Ukraina terjalin sejak invasi Februari 2022.

Perangkat lunak Palantir telah dipakai oleh militer Ukraina untuk menargetkan, seperti tank atau artileri lawan, tulis Reuters, diakses Jumat (3 Februari).

Pernyataan CEO Karp tersebut termasuk yang paling terang-terangan tentang bagaimana perangkat lunak Palantir yang dimulai sejak 20 tahun lalu yang juga telah mendukung dinas intelijen AS.

Perusahaan sendiri telah membuka kantornya di Ukraina.

Bulan lalu, di Swiss, Wakil Perdana Menteri Ukraina Mykhailo Fedorov juga mengatakan bahwa teknologi sangat memungkinkan untuk melacak perkembangan perang secara real-time.

Ukraina mengumpulkan banyak informasi tentang pergerakan musuh melalui teknologi, seperti Palantir, yang kemudian dijadikan dasar militer untuk memutuskan tindakan, kata Fedorov.

Palantir pada dasarnya perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang mengambil informasi melalui satelit juga media sosial, lalu memvisualisasikan posisi tentara atau membuat file data agar lebih mudah dicari.

Ditanya tentang keputusan AI yang bisa keliru, Karp mengatakan, sebelum mesin mengambil tindakan tentu diperlukan sebuah etika sebagai pertimbangan utama. "Ada masalah etika yang sangat besar di medan perang. Jika Anda menggunakan algoritma untuk menghasilkan keputusan militer dan hasilnya salah, siapa yang bertanggung jawab?" ujarnya.

Palantir baru-baru ini meneken kesepakatan senilai US$91,4 juta dengan Kementerian Pertahanan Inggris. Perusahaan juga telah menjual teknologinya ke sejumlah perusahaan di negara lain, seperti di Jepang, dengan Sompo Holdings senilai US$50 juta untuk kerja sama lima tahun. Jepang termasuk pasar utama untuk Palantir, tak terkecuali sektor pertahanan.[]