Menkominfo Sebut Layanan E-Health di Indonesia Berpeluang Tumbuh Besar
Cyberthreat.id – Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia selama pandemi Covid-19 tidak bisa dilepaskan dari keberadaan layanan kesehatan digital (e-health).
“Saat pandemi, layanan digital kesehatan telah membuka akses masyarakat semakin insklusif,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate dalam Forum Ekonomi Digital III yang berlangsung secara hibrida, Selasa (30 November 2021).
Menurut dia, sektor industri e-health memiliki peluang besar dalam pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Pada tahun ini, katanya, valuasi sektor ekonomi digital diperkirakan mencapai sekitar Rp1.000 trilliun dan pada 2025 diproyeksikan tumbuh sampai Rp2.100 triliun.
“Sangat besar (nilainya), termasuk di dalamnya electronic health. Sehingga kita perlu melakukan pertemuan untuk mendapat masukan dari industri, agar kebijakan yang diambil itu memang berpihak pada pengembangan industri, termasuk industri e-health dalam rangka peningkatan pelayanan pada masyarakat,” jelasnya dikutip dari situs web Kominfo.go.id, diakses Rabu (1 Desember).
Menurut Johnny, ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku industri e-health Indonesia agar turut aktif memperkuat penyelenggaraan Presidensi G20 Indonesia tahun depan.
Pertama, memberikan rekomendasi terkait isu e-health yang dibahas pada Digital Economy Working Group G20 Tahun 2022. Kedua, pelaku industri dapat berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam membangun prinsip-prinsip bersama skala global tentang praktek teknologi kesehatan.
Ketiga, mengeksplorasi secara aktif dalam menjalin kerja sama business to business antarnegara G20. Keempat, menyediakan kustomisasi layanan isu e-health pada masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta dari negara-negara G20.
Johnny menyatakan sesuai dengan amanat Undang-Undang Kesehatan, isu layanan kesehatan nasional, mulai tindakan kuratif, preventif, promotif, rehabilitatif, dan pelayanan medis, bisa memanfaatkan infrastruktur digital.
Salah satu aspek penting dalam e-health berkaitan dengan pemerataan jangkauan ke seluruh wilayah Indonesia. Sejalan dengan pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), ia meyakini layanan e-health akan tumbuh pesat.
Ia mencontohkan pada akhir 2020, Indonesia masih memiliki sekitar 3.126 fasilitas layanan kesehatan yang belum memiliki akses internet. “Dalam waktu tiga bulan (Oktober—Desember), itu disediakan semuanya dengan memanfaatkan satelit,” ujar Menkominfo.
Bahkan, selama pandemi Covid-19, pemerintah juga mengembangkan aplikasi PeduliLindungi sebagai aplikasi terintegrasi yang memudahkan arus informasi dan data kesehatan.
“Dengan tersedianya infrastruktur TIK, maka seluruh perangkat aplikasinya seperti PeduliLindungi, PCare, maupun SiLacak, dan aplikasi lainnya dari Kementerian Kesehatan, semuanya bisa kita layani dengan baik mulai dari data masyarakatnya, tracking dan tracing-nya, hingga pada vaksinasi,” jelasnya.
Hadir pula dalam Forum Ekonomi Digital III, di antaranya Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono, Wakil Ketua Umum idEA Budi Primawan, Ketua Atensi Purnawan Junadi, dan Chairman Asosiasi Healthtech Indonesia, Gregorius Bimantoro.
Lalu, VP Partnership Alodokter Agustine MBA, Managing Director Good Doctor Technology Indonesia Danu Wicaksana, Co-Founder Klinik Go Ogy Winenmardika, Co-Founder Alodokter Suci A, Sari, dan CEO KlikDokter Hendra Heryanto Tjong.
Dari komunitas hadir pula Ketua Perhimpunan Kedokteran Wisata Indonesia (Perkedwi) Mukti E. Rahadian MARS dan Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Kedokteran Digital (Predigti) Agus Ujianto.[]